17 April 2014

Skripsi Keperawatan ; Faktor–Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit Hipertensi



ABSTRAK
Eka Muhlisah, Faktor–Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit Hipertensi di Puskesmas Ujung Loe Kabupaten Bulukumba  (Dibimbing oleh Junaidi dan Abd Rahmat).
Hipertensi adalah suatu gangguan pada system peredaran darah yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah yaitu peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolic  ≥ 90 mmHg. (Febry B dkk, 2013). Berdasarkan laporan Puskesmas Ujung Loe  tahun 2013 penderita hipertensi pada bulan september meningkat menjadi 167 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian penyakit hipertensi di Puskesmas Ujung Loe Kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini ditarik secara porposive sampling dan didapatkan 118 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, selanjutnya data diolah menggunakan program komputerisasi dengan uji chi square dan dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian ini adalah terdapat 77 responden (55,9%) laki-laki, dari 77 responden tersebut, 49 (44,1%) yang hipertensi, nilai p=0,010 (p<α); 69 responden (58,5%) berumur 40 tahun ke atas diantaranya terdapat 46 (39,0%) yang hipertensi, dengan niali p=0,003 (p<α); 77 responden (63,5%) pola makannya kurang baik diantaranya terdapat 50 (42,4%) yang hipertensi, dengan niali p=0,006 (p<α); 84 responden (71,2%) memiliki riwayat keluarga hipertensi diantaranya 53 (44,9%) yang hipertensi, dengan niali p=0,007 (p<α); 66 responden (55,9%) merokok diantaranya terdapat 43 (36,4%) yang hipertensi, dengan niali p=0,005 (p<α); 75 responden (63,6%) mengkomsumsi alkohol, diantaranya terdapat 50 (42,4%) yang hipertensi, dengan niali p=0,006 (p<α). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kejadian hipertensi dengan umur, pola makan, jenis kelamin, riwayat keluarga, rokok, dan alkohol. 
Kata Kunci : hipertensi, umur, pola makan, jenis kelamin, riwayat keluarga, rokok, alkohol.

>>> Untuk mendapatkan skripsi lengkapnya, hubungi saya di sini

16 April 2014

Skripsi Keperawatan Anak : Hubungan Antara Parental Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar Anak



ABSTRAK
Andriani Hasyanursari, Hubungan Antara Parental Self-Efficacy dengan Prestasi Belajar Anak Kelas VIII di SMPN 21 Makassar (Dibimbing oleh M Askar dan Ardian).

Parental self-efficacy bisa dikaitkan dengan kepercayaan diri, parental efficacy, atau penguasaan (Young, S., L, 2011). Pada tahun 2014, nilai rata-rata rapor siswa kelas VIII SMPN 21 Makassar yang berjumlah 348 orang pada semister pertama secara keseluruhan adalah 75,5 siswa yang mendapatkan nilai diatas rata-rata nilai kelas berjumlah 218 orang dan yang di bawah rata-rata berjumlah 130 orang. Penelitian ini betrujuan untuk mengetahui hubungan antara parental self-efficacy dengan prestasi belajar anak kelas VIII di SMP 21 Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini ditarik secara simple random sampling dan didapatkan 49 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, selanjutnya data diolah menggunakan program komputerisasi dengan uji chi-square dan dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari hasil penelitian ini didapatkan dari 49 responden yang diteliti, didapatkan 32 responden (65,5%) yang prestasi belajarnya baik dan 27 responden (55,1%) diantaranya memiliki parental self-efficacy yang tinggi dengan niali p = 0,000 (p < α);. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara parental self efficacy dengan prestasi belajar anak. 
Kata Kunci : parental self-efficacy, Prestasi belajar.


>>>>> Untuk mendapatkan skripsi lengkapnya, hubungi disini


11 March 2014

Skripsi ; FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN IBU DALAM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN ANAK BALITA (1-5 TAHUN)



ABSTRAK

Muhammad Yalman Sani. “FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN IBU DALAM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN ANAK BALITA (1-5 TAHUN) DI RSIA SITTI FATIMAH MAKASSAR”
(Pembimbing I : Sitti Nurbaya, Pembimbing II : Hadia).

Peran ibu adalah sebagai “tiang rumah tangga” amatlah penting bagi terselenggaranya rumah tangga yang sakinah yaitu keluarga yang sehat dan bahagia, karena di atas yang mengatur, membuat rumah tangga menjadi surga bagi anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi bagi suaminya (Heni Wijayanti, 2012). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan terhadap peran ibu dalam menstimulasi perkembangan anak balita (1-5 tahun) di RSIA Sitti Fatimah Makassar. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional, populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai anak balita (1-5 tahun) di RSIA Sitti Fatimah Makassar. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, didapatkan 38 responden sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar kuesioner. Data univariat diolah menggunakan uji Chi-square dengan koreksi Fisher’s exact-test hasil yang bermakna jika nilai p = 0,000 . ketentuan significancy apabila p < 0,05 dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasilnya analisis bivariat menunjukan bahwa pengetahuan (p = 0,040), pendidikan (p = 0,004), pekerjaan (p = 0,025), dan pendapatan (p = 0,052).
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan terhadap peran ibu dalam menstimulasi perkembangan anak balita (1-5 tahun) di RSIA Sitti Fatimah Makassar.


Kata Kunci : Peran ibu, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. 

Untuk mendapatkan skripsi lengkapnya, hubungi disini

10 March 2014

Askep : LAPORAN PENDAHULUAN OSTEOPOROSIS


LAPORAN PENDAHULUAN
OSTEOPOROSIS
I.     KONSEP MEDIS
A.       Defenisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porousosteo artinya tulang, dan porousberarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001,  National Institute of Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah (Sudoyo, 2009).

9 December 2013

Asuhan Keperawatan Keperawatan : Isolasi Sosial



LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL

I.        Konsep Medis
A.      Pengertian
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam  (Twondsend, 1998 dikutip Nita Fitria, 2009).
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Pawlin, 1993 dikutip Budi Keliat, 2011).
Menurut Depkes RI tahun 2000 kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Nita Fitria, 2009).
B.      Etiologi
1.       Faktor Predisposisi
a.       Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang mulai dari usia bayi sampai dewasa lanjut untuk dapat mengembangkan hubungan social yang positif, diharapkan setiap tahap perkembangan dilalui dengan sukses. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon sosial maladaptif.
b.      Faktor Biologis
Faktor genetic dapat berperan dalam respon social maladaptif.
c.       Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan factor utama dalam gangguan berhubungan. Hal ini diakibatkan oleh norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, tidak mempunyai anggota masyarakat yang kurang produktif seperti lanjut usia, orang cacat dan penderita penyakit kronis. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan system nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas.

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler