20 December 2011

Asuhan Keperawatan Apendisitis

KONSEP TEORI
A. Defenisi
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis) (Suzanne, 2002).
Apendisitis merupakan merupakan peradangan pada apendiks (kantung buntu pada caecum) yang dapat menjadi keadaan darurat, khususnya dalam pembedahan pada anak. Secara umum apendiks ini melekat pada caecum, dan pada anak umumnya tidak lurus dan memperlihatkan sebuah lipatan. Apabila terjadi peradangan apendiks maka akan terjadi akumulasi dari eksudat purulen dalam lumen dan dapat terjadi obstruksi, akibatnya suplai darah berkurang, pembuluh darah juga akan mengalami kerusakan (Hidayat, 2008).
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan (Mansjoer, 2000).
Apendisitis, penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka , pria lebih sering dipengaruhi daripada wanita, dan remaja lebih sering pada orang dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapa pun, apendisitis paling sering antara usia 10 dan 30 tahun (Suzanne, 2002).

B. Etiologi
Appendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi dan faktor yang tersering adalah obstruksi lumen :
1. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
2. Adanya benda asing seperti cacing
3. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
4. Sebab lain misalnya keganasan (karsinoma)

C. Manifestasi Klinik
 Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan sering kali muntah.
 Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
 Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare
 Tanda rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran kanan bawah, yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah)
 Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk

D. Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlibat atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dan feses), tumor, atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi di kudran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya, apendiks yang terinflamasi berisi pus.
Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan , mengakibatkan edema, dianpedesis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Pepat radangan yang timbul meluas dan mengenai peritenoum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini di sebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks akan diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi .
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan berjalan kea rah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lenig panjang, dinding apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut di tambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.





E. Penyimpangan KDM
PENYIMPANGAN KDM APENDISITIS




















F. Penunjang diagnostik
1. Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Leukosit meningkat lebih 12.000/mm3, neutrofil menungkat sampai 75% sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi.
a. Hb (hemoglobin) nampak normal
b. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat
c. Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
3. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa appendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma
4. Foto Abdomen
Dapat menyatakan adanya pergeseran material dari apendiks (fekalit), ileus terlokalisir.


G. Penatalaksanaan
a) Medik
 Terapi bedah : appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting.
 Terapi antibiotik, tetapi anti intravena harus diberikan selama 5 – 7 hari jika appendicitis telah mengalami perforasi.
b) Keperawatan
Perawatan prabedah perhatikan tanda–tanda khas dari nyeri
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan lepas), peninggian laju endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal pada sisi kanan. Pasien disuruh istirahat di tempat tidur, tidak diberikan apapun juga per orang. Cairan intravena mulai diberikan, obat – obatan seperti laksatif dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.











KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluahan utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.
b. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
Apakah pasien pernah dirawat dengan penyakit yang sama atau penyakit lain yang berhubungan dengan apendiks, sehingga menyebabkan penyakit apendisitis.
c. Data focus
1. Data subjektif
 nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah.
 keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama
 Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
2. Data objektif
 Demam, biasanya rendah.
 Data psikologis Klien nampak gelisah.
 Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
 Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
d. Pemeriksaan fisik
1) Biodata Klien
2) Riwayat Masalah kesehatan pasien meliputi:
a) Aktivitas/ istirahat
 Malaise
b) Sirkulasi
c) Eliminasi
 Konstipasi pada awitan awal
 Disfensi abdomen,nyeri tekan/nyeri lepas.
d) Integritas ego
 Perasaan cemas,takut
 Factor-faktor stress
 Tidak dapat beristrahat,peningkatan ketegangan.
e) Makanan/cairan
 Anoreksia dan mual,muntah
 Membrane mukosa yang kering
d) Nyeri/kenyamanan
 Nyeri abdomaen sekitar epigastrium dan umbilicus,yang meningkat berat.
 Nyeri lepas pada sisi kiri di duga inflamasi peritoneal.
e) Keamanan
 Demam
f) Pernapasan
 Takipnea
 Pernapasan dangkal
B. Diagnosa
1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
3. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake menurun
5. Deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
6. Kurang pengetahuan terhadap proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi
C. Intervensi
 Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
Tujuan : rasa nyeri akan teratasi
Intervensi :
• Mengkaji tingkat nyeri,lokasi, dan karateristik nyeri
Rasional : untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indikator secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya
• Menganjurkan pernapasan dalam
Rasional : pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri
• Memberikan analgesic
Rasional : untuk menghilangkan rasa nyeri(apabila sudah mengetahui gejala pasti)
 Dx 2: Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Intervensi
• Membersihkan lapangan operasi dari beberapa organism yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran
Rasional : pencukuran dengan arah yang berlawan dengan arah tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut,sehingga benar-benar bersih
• Menganjurkan klien mandi dengan sempurna
Rasional : kulit yang bersih mempunyai arti terhadap timbulnya mikroorganisme
• HE tentang pentingnya kebersihan diri klien
Rasional : dengan pemahaman klien,klien dapat bekerja sama dalam melakukan tindakan.
 Dx 3 : Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah
Tujuan : mempertahankan keseimbangan volume cairan
Intervensi :
• Memonitar tanda-tanda vital
Rasional : merupakan indicator secara dini tentang hipovolemia
• Memonitor intake,output,dan konsentrasi urine
Rasional : menurunnya output dan konsentrasi urine akan meninkatkan kepekaan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan
• Memberikan cairan sedikit demi sedikit tapi sering
Rasional : untuk meminimalkan hilangnya cairan
 Dx 4: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake menurun
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
• Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : mengawasi keefektifan secara diet
• Memberikan makan sedikit tapi sering
Rasional : tidak member rasa bosan dan pemasukan dapat ditingkatkan
• Memberikan makanan yang bervariasi
Rasional : makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien
 Dx 5 : Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
• Memberikan HE pada klien tentang pentingnya kebrsihan diri Rasional : agar klien dan keluarga termotivasi untuk menjaga kebersihan
• Meberikan pujian kepada klien tentang kebersihannya
Rasioal : agar klien merasa tersanjung daan lebih memperhatikan kebersihan
• Membimbing kelurga klien untuk memendikan
Rasional : agar keterampilan dapat diterapkan
 Dx 6 : kurang pengetahuan terhadap proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : klien akan memahami perawatan post operasi dan pengobatan
Intervensi :
• Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi
Rasional : klien dapat memahami dan dapat merencanakan setra melaksanakannya setelah operasi
• Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi proses istirahat setelah operasi.
Rasional :mencegah luka baring dan mempercepat penyembuhan.
D. Evaluasi
1) Nyeri dapat teratasi
2) Tidak terjadi infeksi
3) Dapat mempertahankan keseimbangan volume cairan
4) Klien mampu merawt diri sendiri
5) Klien mampu menjaga kebersihan diri
6) Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya

No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler