20 December 2011

asuhan keperawatan Kista Ovarium

KONSEP MEDIS
A. Pengertian Kista Ovarium
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005: 273)
Kista ovarium merupakan pembesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium ovarium. (Smelzer and Bare. 2002: 1556)
Tumor ovarium sering jinak bersifat kista, ditemukanterpisah dari uterus dan umumnya diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fisik (Sjamsoehidyat. 2005: 729)
Jenis-jenis kista ovarium terdiri dari:
1. Kistoma ovari simpleks
Kista yang permukaannya rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis berisi cairan jernih yang serosa dan berwarna kuning
2. Kistodema ovari musinosum
Bentuk kista multilokular, biasanya unilateral dan dapat tumbuh menjadi besar.
3. Kistadenoma ovari serosum
Kista yang berasal dari epitel germinativum, kista ini dapat membesar.


4. Kista dermoid
Teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol dari pada mesoderm dan endoterm. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis (Arief Mansjoer, dkk. 1999: 38)
B. Fisiologi
Ovarium adalah sepasang organ berbentuk kelenjer dan tempat menghasilkan ovum. Kelenjer itu berbentuk biji buah kenari, terletak di kanan dan kiri uterus, di bawah tuba uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uteri. (Evelin, 200: 261)
Ovarium terdiri atas korteks di sebelah luar dan diliputi oleh epitelium germinativum yang berbentuk kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta folikel primordiial dan medula sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh darah, serabut sara dan sedikit otot polos. (Bobak. 1995: 25)
Fungsi ovarium adalah:
1. Memproduksi ovum
Hormon gonodotrofik dari kelenjar hipofisis bagian anterior mengendalikan (melalui aliran darah) produksi hormon ovarium. Hormon perangsangfolikel (FSH) penting untuk awal pertumbuhan folikel de graaf, hipofisis mengendalikan pertumbuhan ini melalui Lutenizing Hormon (LH) dan sekresi luteotrofin dari korpus lutenum.
2. Memproduksi hormon estrogen, dikeluarkan oleh ovarium dari mulai anak-anak sampai sesudah menopause (hormon folikuler) karena terus dihasilkan oleh sejumlah besar folikel ovarium dan seperti hormon beredar dalam aliran darah. Estrogen penting untuk pengembangan organ kelamin wanita dan menyebabkan perubahan anak gadis pada masa pubertas dan penting untuk tetap adanya sifat fisik dan mental yang menandakan wanita normal. (Evelin, 2000: 262)
3. Memproduksi hormon progesterone, disekresi oleh luteum dan melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh estrogen terhadap endometrium yaitu menyebabkan endometrium menjadi tebal, lembut dan siap untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi. (Bobak, 1995: 28)
C. Manifestasi Klinik
• Teraba masa intraabdominal.
• Dapat timbul asites
• Nyeri mendadak di perut bagian bawah (Arief Mansjoer, 1999: 388)
• Terjadi penekanan pada organ-organ abdomen yang berdekatan.
• Menstruasi yang datang terlambat, timbul disertai nyeri.
• Perasaan penuh pada abdomen.
• Siklus menstruasi yang memanjang dan memendek.
• Nyeri pinggul pada waktu bersenggama, pada waktu berjalan atau bergerak.
• Nyeri pinggul pada waktu menstruasi.
• Mual, muntah dan payudara tegang seperti gejala orang hamil.
• Infertilitas/tidak subur (Internet. geogle. com)

D. Etiologi
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti, kemungkinan dari bahan-nahan yang bersifat karsinogenik, bisa zat kimia, polutan, hormonal dan lain-lain. Penyebab lain adalah:
1. Adanya pertumbuhan sel yang tidak terkendali di ovarium, misalnya pertumbuah abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum, sel telur (Brunner & Suddarth, 1998: 1556)
2. Sel telur yang mengalami parthenogenesis (Arief Mansjoeer dkk, 1999: 388)
3. Penyakit-penyakit infeksi: endometrisis
E. Patofisiologi
Setiap hari ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut folikel de graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5-2 cm dengan kista di tenga-tengah.
Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapaty berupa kista folikural dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuik FSH dan HCG.
Kista neopalasia dapat tumbuh dari prolifelasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ni adalah kistadenoma serosa dan mucinous.
Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sec cord sel dan germ cel tumor dari germa sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.
2. Laparascopi
Untuk melihat perubahan endometrial
3. Ultrasonografi untuk melihat keadan kista (Doengoes, 200: 743)
G. Penatalaksanaan
A. Medis
Dua prinsip dalam manajemen kista ovarium:
1. Sikap wait and see, oleh karena mayoritas kista adalah kista fungsional yang akan menyusut dengan sendirinya dalam 2-3 bulan semakin dini deteksinya semakin mudah pengobatannya. Alternatif terapi dapat berupa pemberian pil KB dengan maksud menekan proses ovulasi, dengan sendirinya kista tidak akan tumbuh. (Brunner dan Suddarth, 1998: 1556).
2. Indikasi bedah ialah kista yang tidak menghilang dalam beberapa kali siklus menstruasi/kista yang memiliki ukuran demikian besar. Kista yang ditemukan pada perempuan menopouse/kista yang menimbulkan rasa nyeri uar biasa lebih-lebih sampai timbul perdarahan. (internet. goegle.com)
Bentuk-bentuk pembedahan yang ada dalam kebidanan, yaitu: laparatomi, histerektomi dan secsio caesarea

B. Keperawatan
A. Perawatan pre operasi
• Pendidikan pasien pre operasi
1. Latihan nafas dalam, batuk dan relaksasi
Tujuannya adalah mengajarkan pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anestersi umum.
Caranya:
(1) Pasien diletakkan dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru yang maksimum.
(2) Instruksikan pasien untuk nafas dalam
(3) Hembuskan melalui mulut, ambil nafas pendek dan batikkan di bagian paru yang paling dalam. (Brunner & Suddarth, 2000: 436)
2. Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif
Tujuannya peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati pada pasca operatif adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah statis vena dan untuk menunjang fungsi pernafasan yang optimal.
(1) Ajarkan pasien/keluarga miring ke arah kiri/kanan
(2) Sangga bagian belakang pasien dengan menggunakan bantal (Brunner & Suddarth, 2000: 437)
3. Kontrol dan medikasi nyeri
Pasien diberitahukan bahwa medikasi pra anestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi dan dapat menyebabkan rasa mengantuk dan haus. (Brunner & Suddarth, 2000: 437)
4. Kontrol kognitif
Strategi kognitif dapat bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan, ansietas yang berlebihan.
Caranya:
(1) Imajinasi
Pasien dianjurkan untuk berkonsentrasi pada pengalaman yang menyenangkan.
(2) Distraksi
Pasien dianjurkan untuk memikirkan cerita yang dapat dinikmati.
(3) Pikiran optimis diri
Menyatakan pikiran-pikiran optimis.
• Pengecekan pra operatif segera
1. Nutrisi dan cairan
(1) Cairan per oral dianjurkan malam sebelum operasi.
(2) Pasien dipuasakan untuk mencegah aspirasi.
2. Persiapan intestinal
Pembersihan dengan enema pada malam sebelum operasi. Tujuannya untuk mencegah defekasi saat pembedahan.
3. Persiapan kulit pre operatif
Pencukuran pada daerah yang akan di operasi.













ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
4) Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya kista ovarium.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi untuk tumbuh/tidaknya suatu kista ovarium.
5. Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan sampai amenorhea.
6. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a. Kepala
1) Hygiene rambut
2) Keadaan rambut
b. Mata
1) Sklera : ikterik/tidak
2) Konjungtiva : anemis/tidak
3) Mata : simetris/tidak
c. Leher
1) pembengkakan kelenjer tyroid
2) Tekanan vena jugolaris.
d. Dada
• Pernapasan
1) Jenis pernapasan
2) Bunyi napas
3) Penarikan sela iga
• Abdomen
1) Nyeri tekan pada abdomen.
2) Teraba massa pada abdomen.
• Ekstremitas
1) Nyeri panggul saat beraktivitas.
2) Tidak ada kelemahan.
• Eliminasi, urinasi
1) Adanya konstipasi
2) Susah BAK
• Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan berbagai tingkat umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
• Data Spritual
Klien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan kepercayaannya.
• Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium tersebut sementara pada klien dengan kista ovarium yang ovariumnya diangkat maka hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil/punya keturunan.
• Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
• Pemeriksaan Penunjang
1) Data laboratorium, pemeriksaan Hb
2) Ultrasonografi, untuk mengetahui letak batas kista.
B. Diagnosa Keperawatan
• Dx 1 : Ketakutan/ansietas berhubungan dengan ancaman/perubahan pada status kesehatan. (Marylinn. 1998: 1000)
• Dx 2 : Nyeri (akut) berhubungan dengan infiltrasi jaringan atau proses penyakit. (Marylinn. 1998: 1005)
• Dx 3 : Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasn kognitif. (Marylinn.1998: 1018)

C.Intervensi
• Dx 1
Intervensi 1 : Tinjau ulang pengalaman pasirn/orang terdekat sebelumnya tentang kista ovarium.
Rasional : Membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasar kan pada pengalaman dan kanker.
Intervensi 2 : Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut, relistis serta kesalahan konsep tentang diagnosis.
Intervensi 3 : Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis.
Rasional : Dapat menutunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat kebutuhan berdasarkan realita.

Intervensi 4 : Libatkan orang terdekat ssesuai indikasi bila keputusan penting akan dibuat.
Rasional : Menjamin sistem pendukung untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat dengan tepat.
• Dx 2 :
Intervensi 1 : Tentukan riwayat nyeri, misal lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan identitas (skala 0-10)
Rasional : Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan intervensi.
Intervensi 2 : Berikan tindakan kenyaman dasar, misalnya: aktivitas hiburan.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan memfokuskan kembali perhatian.
Intervensi 3 : Dorong mpnggunaan keterampilan manajemen nyeri (misal: teknik relaksasi, visualiasai, bimbingan imajinasi)
Rasional : Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif

Intervensi 4 : Evaluasi penghilangan nyeri/kontrol nilai aturan pengobatan bila perlu
Rasional : Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minuman pada AKS
• Dx 3
Intervensi 1 : Tinjau ulang dengan keluarga/pasien tentang pemahamannya berhubungan dengan diagnosis.
Rasional : Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini.
Intervensi 2 : Minta pasien untuk umpan balik verbal dan perbaiki kesalahan konsep.
Rasional : Kesalahan konsep lebih menganggu proses penyembuhan
Intervensi 3 : Tinjau ulang aturan pengobatan khusus dan penggunaan obat yang dijual bebas.
Rasional : Kemampuan untuk mengatur perawatan diri,
Intervensi 4 : Berikan informasi tentang penyakit secara jelas dan akurat.
Rasional : Kebutuhan pengetahuan terpenuhi.
D . Evaluasi
1. Berkurangnya bahkan tidak ada lagi ansietas pada pasien, sehingga status kesehatannya semakin membaik
2. Berkurangnyaatau tidak adanya rasa nyeri
3. Pasien dan keluarga semakin memahami penyakit yang diderita

2 comments:

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler