20 December 2011

Asuhan Keperawatan Kolelitiasis

KONSEP TEORI
A. DEFINISI
Kolelitiasis adalah inflamasi akut atau kronis dari kandung empedu, biasanya berhubungan dengan batu empedu yang tersangkut pada duktis kistik, menyebabkan distensi kandung empedu. Batu-batu (kalkuli) dibuat oleh kolesterol, kalsium bilirubinat, atau campuran, disebabkan oleh perubahan pada komposisi empedu. Batu empedu dapat terjadi peda duktus koledukus, duktus hepatica dan duktus pangkreas. Kristal dapat juga terbentuk pada submukosa kandung empedu menyebabkan penyebaran inflamasi. Kolelitiasi akut dengan kolelitiasis biasanya diterapi melalui bedah, meskipun banyak metode pengobatan (fragmentasi dan penghancuran batu) yang digunakan saat ini. Rencana perawatan ini berlaku pada penyakit akut, pasien yang dirawat di rumah sakit (Doenges.E dan Marilyn, 2002) .
Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus,batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) yang memiliki ukuran,bentuk dan komposisi yang bervariasi.
Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor resiko,yaitu : obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.
B. ETIOLOGI
Etiologi batu empedu masih belum diketahui secara pasti,adapun faktor predisposisi terpenting, yaitu : gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, statis empedu, dan infeksi kandung empedu.
 Perubahan komposisi empedu
Kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam pembentukan batu empedu karena hati penderita batu empedu kolesterol mengekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Kolesterol yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu (dengan cara yang belum diketahui sepenuhnya) untuk membentuk batu empedu.
 Statis empedu
Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan unsur-insur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme spingter oddi, atau keduanya dapat menyebabkan statis. Faktor hormonal (hormon kolesistokinin dan sekretin) dapat dikaitkan dengan keterlambatan pengosongan kandung empedu.
 Infeksi bakteri
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu. Mukus meningkatakn viskositas empedu dan unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat pengendapan. Infeksi lebih mungkin timbul akibat dari terbentuknya batu, dibanding panyebab terbentuknya batu.
C. MANIFESTASI KLINIS
• 90% batu empedu (kemungkinan) bersifat asimptomatik
• Kolik bilier: nyeri kolik yang berat pada peru bagian atas yang menjalar ke sekitar batas atas iga kanan dengan atau tanpa muntah. Terdapat periodisitas waktu, seringkali muncul pada malam hari yang hilang spontan setelah beberapa jam. Diagnosa banding meliputi infark miokard, eksaserbasi ulkus peptikum, GERD.
• Kolelitiasis kronis : diagnose yang tidak pasti yang ditunjukkan oleh nyeri abdomen bagian atas yang samar-samar dan hilang timbul, kembung, flatulens, dan intoleransi makanan berlemak. Dapat mengindikasikan adanya episode ringan kolelitiasis berulang. Diagnose banding meliputi PUD (penyakit ulkus peptikum) dan GERD kronis.
• Kolelitiasis obstruktif akut: nyeri hipokondrial kanan yang menetap, pireksia, mual atau dengan tanpa ikterus. Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dengan tanda Murphy positif. Leukositosis. Kasus yang tidak sembuh menyebabkan empiema pada kandung kemih. Diagnosis banding meliputi infark miokard, pneumonia basal, pangkreatitis, apendisitis, ulkus peptikum perforasi, emboli paru.
• Kolangitis: nyeri abdomen, demam tinggi/menggigil, ikterus obstruktif (trias Charcot), nyeri tekan hebat pada kuadran kanan atas. Diagnosis pembanding meliputi infark miokard, pneumonia basal, pangkreatitis, hepatitis akut.
• Ikterus obstruktif: nyeri abdomen bagian atas, feses yang pucat/seperti tanah liat, urine warna gelap, gatal-gatal. Dapat berlanjut menjadi kolangitis jika CBD tetap tersumbat.
• Pangkreatitis: nyeri pada pusat atau epigastruim, nyeri punggung, demam, takikardia, nyeri tekan epigastruim
D. PATIFISIOLOGI
Ada dua tipe utama batu empedu yaitu:
1. Batu pigmen
Batu ini kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tidak terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Resiko terbentunya batu semacam ini semakin besar pada sirosis, hemolisis dan infeksi percabangan biler. Batu ini tidak dapat dikeluarkan dan harus dilakukan dengan cara operasi.
2. Batu kolesterol
Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutan bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (pospolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati. Keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu empedu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu empedu, melalui peningkatan deskuamasi sel dan pembentukan mucus. Mucus meningkatkan fiskositas dan unsure seluler dan bakteri dapat berperan sebagai pusat presipitasi.

E. PENYIMPANGAN KDM


F. Nilai hasil pemeriksaan laboratorium (dalam buku patofisiologi vol 1)
1. Uji eksresi empedu
Fungsinya mengukur kemampuan hati untuk mengonjugasi dan mengekresikan pigmen.
• Bilirubin direk (terkonjugasi) merupakan bilirubin yang telah diambil oleh sel-sel hati dan larut dalam air. Makna klinisnya mengukur kemampuan hati untuk mengonjugasi dan mengekresi pigmen empedu. Bilirubin ini akan meningkat bila terjadi gangguan eksresi bilirubin terkonjugasi.
Nilai normal :
0,1-0,3 mg/dl
• Bilirubin indirek (tidak terkonjugasi) merupakan bilirubin yang larut dalam lemak dan akan meningkat pada keadaan hemolitik (lisis darah).
Nilai normal :
0,2-0,7 mg/dl
• Bilirubin serum total merupakan bilirubin serum direk dan total meningkat pada penyakit hepatoselular
Nilai normal :
0,3-1,0 mg/dl
• Bilirubin urin / bilirubinia merupakan bilirubin terkonjugasi dieksresi dalam urin bila kadarnya meningkat dalam serum, mengesankan adanya obstruksi pada sel hatiatau saluran empedu. Urin berwarna coklat bila dikocok timbul busa berwarna kuning.
Nilai normal :
0 (nol)
2. Uji enzim serum
Asparte aminotransferase (AST/SGOT) dan alanin aminotransferase (ALT/SGPT) merupakan enzim intrasel yang terutama berada di jantung, hati, dan jaringan skelet yang dilepaskan dari jaringan yang rusak (seperti nekrosis atau terjadi perubahan permeabilitas sel dan akan meningkat pada kerusakan hati. Nilai normal AST/SGOT dan ALT/SGPT : 5-35 unit/ml.
Alkaline posfatase dibentuk dalam hati dan dieksresikan ke dalam empedu, kadarnya akan meningkat jika terjadi obstuksi biliaris. Nilai normalnya : 30-120 IU/L atau 2-4 unit/dl.
G. Pemeriksaan diagnostik
1. Ronsen abdomen/pemeriksaan sinar X/Foto polos abdomen
Dapat dilakukan pada klien yang dicurigai akan penyakit kandung empedu. Akurasi pemeriksaannya hanya 15-20 %. Tetapi bukan merupakan pemeriksaan pilihan.
2. Kolangiogram/kolangiografi transhepatik perkutan
Yaitu melalui penyuntikan bahan kontras langsung ke dalam cabang bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikan relatif besar maka semua komponen sistem bilier (duktus hepatikus, D. koledukus, D. sistikus dan kandung empedu) dapat terlihat. Meskipun angka komplikasi dari kolangiogram rendah namun bisa beresiko peritonitis bilier, resiko sepsis dan syok septik.
3. ERCP ( Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatographi)
Yaitu sebuah kanul yang dimasukan ke dalam duktus koledukus dan duktus pancreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut. Fungsi ERCP ini memudahkan visualisasi langsung stuktur bilier dan memudahkan akses ke dalam duktus koledukus bagian distal untuk mengambil batu empedu, selain itu ERCP berfungsi untuk membedakan ikterus yang disebabkan oleh penyakit hati (ikterus hepatoseluler dengan ikterus yang disebabkan oleh obstuksi bilier dan juga dapat digunakan untuk menyelidiki gejala gastrointestinal pada pasien-pasien yang kandung empedunya sudah diangkat.ERCP ini berisiko terjadinya tanda-tanda perforasi/ infeksi

H. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksaan pendukung dan diet
Kurang lebih dari 80% dari pasien-pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat, cairan infus, penghisapan nasogastric, analgesic dan antibiotic. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan evaluasi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi pasien memburuk. Manajemen terapi:
• Diet rendah lemak, tinggi kalori, tinggi protein
• Pemasangan pipa lambung bila terjadi distensi perut
• Observasi keadaan umum dan pemeriksaan tanda-tanda vital
• Pasang infuse program cairan elektrolit dan glukosa untuk mengatasi syok
• Pemberian antibiotic sitemik dan vitamin K (anti koagulopati)
2. Pengangkatan batu empedu tampa pembedahan
• Pelarutan batu empedu dengan bahan pelarut (misal: Monooktanoin atau methyl tertier butyl eter/MTBE) dengan melalui jalur: selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung kedalam kandung empedu, melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan, melalui endoskopi ERCP atau kateter bilier transnasal.
• Pengangkatan non bedah: beberapa metode non bedah digunakan untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat pada saat kolisistektomi atau yang terjepi dalam duktus koledokus. Prosedur pertama sebuah kateter dan alat disertai jaring yang terpasang padanya disisipkan lewat saluran T Tube atau lewat fistula yang terbentuk pada saat insersi T Tube, jaring digunakan untuk memegang dan menarik keluar batu yang terjepit dalam duktus koledokus. Prosedur kedua adalah pengguaan endoskopi ERCP. Setelah endoskopi terpasang, alat pemotong dimasukkan lewat endoskopi tersebut ke dalam ampula vater dari duktus koledokus. Alat ini digunakan untuk memotong serabut-serabut mukosa atau papilla dari spingter oddi sehingga mulut spingter tersebut dapat diperlebar. Pelebaran ini memungkinkan batu yang terjepit untuk bergerak dengan spontan ke dalam duodenum. Alat lain yang dilengkapi dengan jaring atau balon kecil pada ujungnya dapat dimasukkan melalui endoskopi untuk mengeluarkan batu empedu. Meskipun komplikasi setalah tindakan ini jarang terjadi, namun kondisi pasien harus diobservasi dengan ketat untuk mengamati kemungkinan terjadinya perdarahan, perforasi dann pancreatitis.
• ESWL (extracorporeal shock-wave Lithotripsy): prosedur noninvasive ini menggunakan gelombang kejut berulang (repated shock wave) yang diarahkan pada batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus koledokus dangan maksud memecah batu tersebut menjadi beberapa jumlah fragmen
3. Penatalaksanaan Bedah
Penanganan bedah pada penyakit kandung empedu dan batu empedu dilaksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lama, untuk menghilangkan penyebab kolik bilier dan untuk mengatasi kolesistitis akut. Pembedahan dapat efektif jika gejala yang dirasakan pasien sudah mereda atau bias dikerjakan sebagai suatu prosedur darurat bila mana kondisi pasien mengharuskannya. Tindakan operatif meliputi
• Sfingerotomy endoskopik
• PTBD (Pertaneus Trans Hepatik Bilirian Drainase)
• Pemasangan “T Tube” saluran empedu koledoskop
• Laparatomi kolesistektomi pemasangan T Tube
Penatalaksanaan pra-operatif
• Pemeriksaan sinar X pada kandung empedu
• Foto toraks
• Ektrokardiogram
• Pemeriksaan faal hati
• Vitamin K (diberikan bila kadar protrombin pasien rendah)
• Terapi komponen darah
• Penuhi kebutuhan nutrisi, pemberian larutan glukosa secara intra vena bersama suplemen hidrolisat protein mungkin diperlukan untuk membentuk penyembuhan luka dan mencegah kerusakan hati.

KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan
Tanda : gelisah
2. Sirkulasi
Tanda : takikardi, berkeringat
3. Eliminasi
Gejala : perubahan warna urine dan feses
Tanda : distensi abdomen
Distensi abdomen
Terba masssa pada kuadran atas
Urine pekat, gelap
Feses warna tanah liat, steatorea
4. Makanan/cairan
Gejiala : anereksia, mual/muntah
Tidak toleran terhadap lemak dan makanan “pembentuk lemak. Regurgitas berulang, nyeri epigastrium, tidak dapt makan, flatus dyspepsia
Tanda : kegemukan, adanya penurunan berat badan
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri berat atas abdomen, dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan
Kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan
Nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit
Tanda : nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan; tanda Murphy positif
6. Pernapasan
Tanda : peningkatan prekuensi pernapasan
Pernapasan tertekan ditandai oleh napas pendek, dangkal
7. Keamanan : demam, menggigil
Ikterik, dengan kulit berkeringat dan gatal (pruritus)
Kecendrungan perdarahan (kekurangn vitamin K)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (obstruksi, proses pembedahan)
2. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan (mual, muntah, drainase selang yang berlebihan)
3. Ketidakseimbangan nutrisi behubungan dengan keditakmampuan untuk ingesti dan absorbsi makanan
C. PERENCANAAN (INTERVENSI, TUJUAN DAN RASIONAL)
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (obstruksi, proses pembedahan)
Tujuan: meminimalkan/menghilangkan nyeri
Intervensi:
a. Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri (menetep, kolik, hilang timbul)
Rasional: membantu membedakan penyebaab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi
b. Catat respon terhadap obat, dan laporkan kepada dokter jika nyeri hilang
Rasional: nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi/kebutuhan terhadap intervensi lebih lanjut
c. Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman
Rasional: tiarh baring pada posisi Fowler rendah menurunkan tekanan intra abdomen; namun pasien akan melakukan posisi yang menghilangkan nyeri secara alami
d. Gunakan sprei halus/katun; cairan kalamin; minyak mandi (alpha keri); kompres dingin/lembab sesuai indikasi
Rasional: menurunkan iritasi/kulit kering dan sensasi gatal
e. Kontrol suhu lingkungan
Rasional: dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidaknyamanan kulit.
f. Dorong menggunakan teknik relaksasi, contoh bimbing imajinasi, visualisasi, latihan jalan napas dalam. Berikan aktivitas senggang.
Rasional: meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian, dapat meningkatkan koping.
g. Sediakan waktu untuk mendengar dan mempertahankan kontak dengan pasien sering
Rasional: membantu dalam menghilangkan cemas dan memusatkan kembali perhatian yang dapat menghilangkan nyeri.
h. Pertahankan status puasa, masukan/pertahankan penghisapan NG sesuai indikasi.
Rasional: membuang secret gaster yang merangsang pengluaran kolesistokinin dan kontraksi kandung empedu
i. Berikan obat sesuai indikasi:
• Antikolinergik, contoh atropine, propantelin (Pro-Banthine)
Rasional: menghilangkan refleks spasme/kontraksi otot halus dan membantu dalam manajemen nyeri
• Sedatif, contoh fenobarbital
Rasional: meningkatkan istirahat dan merilekskan otot halus, menghilangkan nyeri
• Narkotik, contoh meperidin hidroklorida (Dermal); morfin sulfat
Rasional: memberikan penurunan nyeri hebat. Morfin digunakan dengan waspada karena dapat meningkatkan spasme spingter Oddi, walaupun nitrogliserin dapat diberikan untuk menurunkan spasme karena morfin.
• Monoktanoin (Moctanin)
Rasional: obat ini dapat dicoba setelah kolesistektomi untuk menahan batu, atau membentuk batu baru yang lebih besar dalam duktus empedu. Ini merupakan pengobatan jangka panjang (1-3 minggu) dan diberikan melalui selang nasal-bilier. Kolangiogram dilakukan secara periodik untuk memantau penghancuran batu.
• Relaksan otot halus, contoh papaverin (Pavabid); nitrogliserin, amil nitrat.
Rasional: menghilangkan spasme usus.
• Asam senodeoksikolik (Chernix); asam urodeoksikolik (UCDA, Actigall);
Rasional : asam empedu alamiah ini menurunkan sintesa kolesterol, menghancurkan batu empedu. Keberhasilan pada pengobatan ini tergantung pada jumlah dan ukuran batu empedu.
• Antibiotic
Rasional: untuk mengobati proses infeksi menurunkan inflamasi
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlbihan (mual, muntah, drainase selang yang berlebihan)
Tujuan: meningkatkan homeostatis dan memenuhi kebutuhan cairan.
Intervensi:
a. Perhatikan masukan dan haluaran akurat, pertahankan haluaran kuran dari masukan, peningkatan berat jenis urine. Kaji memberan mukosa/kulit, nadi perifer, dan pengisian kapiler.
Rasional: memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian.
b. Awasi tanda/gejala peningkatan/berlanjutnya mual/muntah, kram abdomen, kelemahan kejang, kejang ringan, kecepatan denyut jantung tak teratur, parestesia, hipoaktif atau tak adanya bising usus, depresi pernapasan
Rasional: muntah berkepanjangan, aspirasi gaster, dan pembatasan pemasukan oral dapat menimbulkan defisit natrium, kalium, dan klorida.
c. Hindarkan dari lingkungan yang berbau
Rasional: menurunkan rangsangan pada pusat muntah
d. Lakukan kebersihan oral dengan pencuci mulut; berikan minyak
Rasional: menurunkan kekeringan memberan mukosa, menurunkan resiko perdarahan oral
e. Gunakan jarum kecil untuk injeksi dan melakukan tekanan pada bekas suntikan lebih lama dari biasanya
Rasional: menurunkan trauma, resiko perdarahan/pembentukan hematoma.
f. Kaji perdarahan yang tidak biasanya, contoh perdarahan terus menerus pada sisi injeksi, mimisan, perdarahan gusi, ekimosis, petekie, hematemesis/melena.
Rasional: protrombin darah menurun dan waktu koagulasi memanjang bila aliran empedu terhambat, meningkatkan resiko perdarahan/hemoragi.
g. Pertahankan pasien puasa sesuai keperluan
Rasional: menurunkan seksresi dan motalitas gaster
h. Masukkan selang NG, hubungkan ke penghisap dan pertahankan patensi sesuai indikasi
Rasional: memberikan istirahat pada traktus GI
i. Berikan antiemetic, contoh proklorperazin (Conpaszine).
Rasional: menurunkan mual dan mmencegah muntah.
j. Kaji ulang pemeriksaan laboratorium contoh Ht/Hb; elektrolit, GDA (pH); waktu pembekuan
Rasional: membantu dalam evaluasi volume sirkulasi, mengidentifiksi defisit dan mempengaruhi pilihan intevensi penggantian/koreksi.
k. Berikan cairan IV, elektrolit, dan vitamin K
Rasional: mempertahankan volume sirkulasi dan memperbaiki ketidakseimbangan
3. Ketidakseimbangan nutrisi behubungan dengan keditakmampuan untuk ingesti dan absorbsi makanan
Tujuan: memenuhu kebutuhan nutrisi
Intervensi:
a. Kaji distensi abdomen, bertahak, berhati-hati
Rasioanal: tanda nonverbal ketidaknymanan berhubungan dengan gangguan pencernaan, nyeri gas.
b. Perkirakan/hitung pemasukan kalori. Jaga komentar tentang napsu makan sampai minimal.
Rasional: mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi. Berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
c. Timbang sesuai indikasi
Rasional: mengawasi keefektifan rencana diet.
d. Konsul tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien, makanan yang menyebabkan distress, dan jadwal makan yang disukai.
Rasional: melibatkan pasien dalam pencernaan, memampukan pasien memiliki rasa control dan mendorong untuk makan.
e. Berikan suasana menyenangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan berbau.
Rasional: untuk meningkatkan napu makan/menurunkan mual
f. Berikan kebersihan oral sebelum makan
Rasional: mulut yang bersih meningkatkan napsu makan
g. Tawarkan minuman seduhan saat makan, bila toleran
Rasional: dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. Catatan: mungkin dikontraindiksikan bila menyebabkan pembentukan gas/ketiknyamanan gaster.
h. Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
Rasional: membantu dalam mengeluarkan flatus, menurunkan distensi abdomen. Mempengaruhi penyembuhan dan rasa sehat dan menurunkan kemungkinan masalah sekunder sehubungan dengan imobilisasi (contoh pneumonia, tromboflebitis).
i. Konsul dengan ahli diet/tim pendukung nutrisi sesuai indikasi
Rasional: berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat
j. Mulai diet cair rendah lemak setelah setelang NG dilepas
Rasional: pembatasan lemak menurunkan rangsangan pada kandung empedu dan nyeri sehubungan dengan tidak semua lemak dicerna dan berguna dalam mencegah kekambuhan.
k. Tambahkan diet sesuai toleransi, biasanya rendah lemak, tinggi serat, batasi makanan penghasil gas (contoh bawang, kol, jagung) dan makanan/minuman tinggi lemak (contoh mentega, makanan gorengan, kacang).
Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi dan meminimalkan rangsangan pada kandung empedu.
l. Berikan garam empedu contoh Biliron: Zanchol; asam dehidrokolik (Decholin) sesuai indikasi
Rasional: meningkatkan pencernaan dan absorbs lemak, vitamin larut lemak, kolesterol. Berguna bagi kolelitiasis kronis.
m. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh BUN, albumin/protein serum, kadar transverin
Rasional: memberikan informasi tentang kekurangan nutrisi/keefektifan terapi
n. Berikan dukungan nutrisi total sesuai kebutuhan
Rasional: makanan pilihan diperlukan tergantung pada derajat ketidakmampuan/kerusakan kandung empedu dan kebutuhan istirahat gaster yang lama.
D. KRITERIA EVALUASI
1. Pasien malaporkan bahwa nyeri hilang/terkontrol
2. Pasien menunjukkan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, memberan mukosa lembab, turgor kulit lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik, secara individu mengeluarkan cukup urine, dan tidak ada muntah
3. Pasien menunjukkan kemajuan berat badan atau mempertahankan berat badan individu yang tepat.

KEPUSTAKAAN
Doenges.E.,marilyn., dkk.2002.Rencana asuhan Keperawatan ed.3. Jakarta. EGC.
www.clinicalgastroenterology.com
www.exclentlife.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler