23 December 2011

Asuhan keperawatan; Atrial Septal Defect

Atrial Septal Defect
1.    PENGERTIAN
           Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kaan dan atrium kiri.Pengertian lain ASD adalah suatu defek jantung kongenital asianotik,dimana terdapat lubang abnormal pada septum abnormal.  Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada  bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrom Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakro
             Defek septum atrial atau Atrial Septum Defect adalah gangguan septum atau sekat antara rongga atrium kanan dan kiri. Septum tersebut tidak menuup secara sempurna dan membuat aliran darah atrium kiri dan kanan bercampur. Angka kejadian ASD berkisar 1 dari 1500 kelahiran hidup. Lubang septum tersebut dapat terjadi di bagian mana saja dari septum namun bagian tersering adalah pada bagian foramen ovale yang disebut dengan ostium sekundum ASD.

22 December 2011

Asuhan Keperawatan Luka bakar (COMBUTSIO)

ASKEP LUKA BAKAR (COMBUTSIO)
KONSEP MEDIS
A.   Definisi 

Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation).

Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas, kimia, elektrik, radiasi dan thermal. (Djohansjah, M, dkk, 1991: 365)
Luka bakar adalah luka yang terjadi bila sumber panas bersentuhan dengan tubuh atau jaringan dan besarnya luka ditentukan oleh tingkat panas atau suhu dan lamanya terkena. (Doengoes, Marilynn E.2000 )
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh karena kontak lansung atau bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan panas, kimia dan sumber lain yang menyebabkan terbakar. (Hudak & Gallo, 1996 : 927)
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka bakakr adaalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam ataau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan.(buku Ilmu Ajar bedah. Syamsuhidayat)

21 December 2011

Asuhan keperawatan sinusitis

A.    Pengertian
1.    Definisi Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostic atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibandingkan suatu penyakit manapun.
Definisi keperawatan tentang nyeri adalah apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu mengatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien bahwa itu ada. Definisi ini berdasarkan dua pokok penting.
Pertama, perawat percaya kepada pasien saat mereka menunjukan bahwa mereka merasakan nyeri. Nyeri dianggap nyata meskipun tidak ada penyebab fisik atau sumber yang dapat diidenfitikasi. Meskipun beberapa sensasi nyeri dihubungkan dengan status mental atau status psikologis, pasien secara nyata merasakan sensasi nyeri dalam banyak hal dan tidak hanya membahayakan saja. Kebanyakakan sensasi nyeri adalah akibat stimulasi fisik dan mental atau stimulasi emosional. Oleh Karena itu, mengkaji nyeri individu mencakup pengumpulan informasi tentang penyebab fisik dari nyeri fisik juga factor mental atau emosional yang mempengaruhi persepsi individu terhadap nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan kepada kedua komponen tersebut.
Pokok penting yang selalu diingat adalah apa yang “dikatakan” pasien tentang nyeri adalah tidak pada pernyataan verbal. Beberapa pasien tidak dapat atau tidak akan melaporkan secara verbal bahwa mereka mengalami nyeri. Karenanya, perawat juga bertanggung jawab terhadap pengamatan perilaku nonverbal yang dapat terjadi bersama nyeri.
Meskipun penting artinya untuk mempercayai pasien yang melaporkan nyeri, yang juga sama pentingnya adalah untuk waspada terhadap pasien yang menagbaikan nyeri saat nyeri terjadi. Seorang perawat yang menduga nyeri pada pasien yang menyangkal nyeri harus menggali bersama pasien penalaran terhadap dugaan nyeri, seperti kenyataan bahgangguan atau prosedur biasanya menimbulkan nyeri, atau bahwa pasien meringis saat bergerak atau menghidari gerakan. Menggali kemungkinan alasan mengapa pasien mengabaikan rasa nyeri adalah juga sangat membantu. Banyak orang yang menyangkal nyeri yang dideritanya karena merasa takut dengan pengobatan atau tindakan yang mungkin terjadi jika merasa mengeluh atau takut menjadi ketergantungan terhadap opioid (narkotik) jika obat-obat ini di berikan untuk mengatasi nyerinya.
2.    Definisi Sinusitis
Sinusitis adalah radang sinusi paranasal. Bila terjadi pada beberapa sinus, disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai seluruhnya disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena adalah sinus maksila kemudian etmoid, frontal, dan sphenoid. Hal ini disebabkan sinus maksila adalah sinus yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, dasarnya adalah dasar akar gigi sehingga dapat berasal dari infeksi gigi, dan ostiumnyaterletak di meatus medius, disekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga sering tersumbat.
Menurut Adams, berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas :
·         Sinusitis akut, bila infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu,
·         Sinusitis subakut, bila infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan,
·         Sinusitis kronik, bila infeksi beberapa bulan sampai beberapa tahun (menurut Cauwenberge, bila sudah lebih dari tiga bulan).
Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversible, dan kronik bila perubahan tersebut sudah ireversibel, misalnya menjadi jaringan granulasi polipoid.

Asuhan keperawatan Hipoglikemia

Definisi
Hipoglikemia adalah sindrom klinik dengan penyebab yang sangat luas sebagai akibat dari rendahnya kadar glukosa plasma yang akhirnya menyebabkan neuroglikopenia sedangkan Hiperglikemia adalah kadar gula darah (glukosa) yang tinggi akibat adanya gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optima l. Hiperglikemia pada bayi baru lahir lebih jarang terjadi.
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar gula atau glukosa darah kurang dari 40 mg% (serum atau plasma lebih tinggi 10-15%). Hipoglikemia dapat asimplomatik atau disertai gejala gangguan susunan syaraf pusat dan kardiopulmonal yang berat
Hipoglikemia (hypo+glic+emia) merupakan konsentrasi glukosa dalam darah berkurangnya secara abnormal yang dapat menimbulkan gemetaran, keringat  dan sakit kepala apabila kronik dan berat,dapat menyebabkan manifestasisusunan saraf pusat (KamusKedokteran Dorland:2000)

20 December 2011

Asuhan keperawatan Hipertensi pada Lansia

KONSEP MEDIS

A. PENDAHULUAN
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba manjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimana seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial scara bertahap (Lilik Ma’rifatul azizah, 2011).
Perubahan sistem kardiovaskular pada lansia meliputi massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertrofi, dan kemampuan perenggangan jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat. Konsumsi oksigen pada tingkat maksimal berkurang sehingga kapasitas paru menurun. Latihan berguna untuk meningkatkan VO2 maksimum, mengurangi tekanan darah, dan berat badan.
Mnurut WHO, dijawa tengah penderita hipertensi pada lansia terdapat 15,2% dan perempuan lebih banyak ditemui menderita hipertensi dari pada laki-laki.
B. PENGERTIAN
Disebut silent killer karena 1 ½ penderita dengan tekanan darah tinggi tidak menyadari kondisi kesehatannya. Hipertensi pada lansia didefinisikan dengan tekanan sistolik diatas 160 mmHg atau tekanan diastolik diatas 90 mmHg (Fatimah, 2010)
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001)
Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Tingkat hipertensi dan anjuran kontrol (Joint National Commitle, U.S 1992)
Tigkat Tekanan sistolik
(mmHg) Tekanan diastolik
(mmHg) Jadwal kontrol
Tingkat I
Tingkat II
Tingkat III
Tingkat IV 140-159
160-179
180-209
210 satau lebih 90-99
100-109
110-119
120 atau lebuh
1 bulan sekali
1 minggu sekali
Dirawat RS

C. KLASIFIKASI
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Darmojo, 1999):
1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
D. ETIOLOGI
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada :
 Elastisitas dinding aorta menurun
 Katub jantung menebal dan menjadi kaku
 Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
 Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
 Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
 Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
 Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
 Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
 Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
a. Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr)
b. Kegemukan atau makan berlebihan
c. Stress
d. Merokok
e. Minum alcohol
f. Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit seperti Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular, Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis, Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke, Ensepalitis. Selain itu dapat juga diakibatkan karena Obat–obatan Kontrasepsi oral
Kortikosteroid
E. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
F. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
 Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
 Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
 BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
 Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
 Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
 Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
 Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
 Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )
 Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.
 Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
 Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
 IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal / ureter
 Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
 CT scan
 Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
 EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
H. PENATALAKSANAAN
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
 Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a. Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
b. Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c. Penurunan berat badan
d. Penurunan asupan etanol
e. Menghentikan merokok
b. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain.
Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
c. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
 Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
 Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
 Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
Step 3
Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain
Step 4
Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4
Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.


KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian secara Umum
1. Identitas Pasien
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental, Suku, Keluarga/orang terdekat, alamat, nomor registrasi.
2. Riwayat atau adanya factor resiko
• Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
• Penggunaan obat yang memicu hipertensi
3. Aktivitas / istirahat
• Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup monoton.
• Frekuensi jantung meningkat
• Perubahan irama jantung
• Takipnea
4. Integritas ego
• Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah kronik.
• Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan dengan pekerjaan).
5. Makanan dan cairan
• Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng,keju,telur)gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori.
• Mual, muntah.
• Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).

6. Nyeri atau ketidak nyamanan
• Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung)
• Nyeri hilang timbul pada tungkai.
• Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
• Nyeri abdomen.
Pengkajian Persistem
1. \Sirkulasi
• Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau katup dan penyakit cerebro vaskuler.
• Episode palpitasi,perspirasi.
2. Eleminasi
• Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obtruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.
3. Neurosensori
• Keluhan pusing.
• Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
4. Pernapasan
• Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
• Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
• Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
• Riwayat merokok

B. DIAGNOSA
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
3. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi
4. Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolic
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung yang tidak adekuat
6. Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau keterbatasan kognitif

C. Intervensi
• Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral
1. Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
2. Intervensi : Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kmepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi.
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral dan yang memperlambat atau memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
3. Intervensi : Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase kontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejam saat bab, batuk panjang, membungkuk
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral
• Dx 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
1. Intervensi : kaji respon pasien terhadap aktivitas,perhatikan frequency nadi lebih dari 20 kali per menit diatas frequency istirahat : peningkatan tekan darah yang nyata selama atau sesudah aktivitas ( tekanan sistolik meningkat 40 mmhg atau tekanan diastolic meningkat 20 mmhg) dispnea atau nyeri dada : kelemahan dan keletihan yang belebihan :pusing atau pingsan.
Rasional : menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stress, aktivitas bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2. Intervensi : instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy, misalnya menggunakan kursi saat mandi,duduk saat menyisir rambut atau menyikat gigi,melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : teknik memghemat energy mengurangi penggunaan energy, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
• DX 3 : Curah Jantung, resiki tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi
1. Intervensi: pantau TD.ukur pad kedua tangan atau paha untuk evaluasi awal.gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
Rasional : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular. Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolic sampai 130, hasil pengukuran diastolic diatas 130 dipertimbangkan sebagai penigkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi sistolik juga merupakan faktor resiko yang di tentukan untuk penyakit cerebrovaskular dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115.

• DX 4 : Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolic
1. Intervensi : kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional : kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jangtung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
2. Intervensi : bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan membatasi masukan lemak,garam,dan sesuai indikasi.
Rasional : kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya ateroskelorosis dan kegemukan yang merupakan predesposisi untuk hipertensi dan komplikasinya misalnya stroke,penyakit ginjal,gagal jantung. Kelebihan memasukkan garam memperbanyak volume cairan intravascular dan dpat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi.

• DX 5 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung yang tidak adekuat
1. Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan
Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari
2. Intervensi : Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya
Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor
3. Intervensi : Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
Rasional : Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik
4. Intervensi : Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala ketidakmampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah
Rasional : Menifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic
• DX 6 : Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau keterbatasan kognitif
1. Intervensi : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk orang terdekat
Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnose karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan, dan prognosis. Bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan.
2. Intervensi : Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak
Rasional : Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD dan mengklarifikasi istilah medis yang sering digunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat
3. Intervensi : Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan
Rasional : Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi
4. Intervensi : Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskular yang dapat diubah misalnya obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol( lebih dari 60cc/hari dengan teratur), pola hidup penuh stress.
Rasional : Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta ginjal.
D. Evaluasi
• Pasien melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang atau terkontrol
• Pasien berpartisupasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
• Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah atau beban kerja jantung.
• Menunjukkan perubahan pola makan ( misalnya pilihan makan, kuantitas,dan sebagainya), mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
• Mengidentivikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
• Pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan

DAFTAR PUSRAKA

Doenges., 2003. Rencana Asuhan Keperawatan.EGC. Jakarta
Fatimah.,2010.Merawat manusia Lanjut usia.Trans Info media.Jakarta
Ma’rifatul Lilik Azizah.,2011.Keperawatan lanjut usia.Graha ilmu.Jogjakarta.

Askep : Fraktur cervikal

A. KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Cedera tulang belakang adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma ; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan olah raga dsb (Sjamsuhidayat, 1997).
Fraktur tulang leher merupakan suatu keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher .Fraktur ini sering terjadi pada anak karena kondisi tulang masih sangat rawan untuk tumbuh dan berkembang.
Fraktur tulang leher sangat berbahaya karena bisa mengganggu sistem saraf yang terdapat pada vertebra. Hal ini bias mengakibatkan gangguan-gangguan neurologis. Bahkan fraktur pada tulang leher bisa menyebabkan seorang anak mengalami lumpuh.
2. Etiologi
 Trauma
Fraktur servikal paling sering disebabkan oleh benturan kuat, atau trauma pukulan di kepala. Pada anak fraktur tulang leher sering terjadi karena anak terjatuh. Mungin juga cedera tersebut diakibatkan karena kekerasan yang dialami anak.
 Penyakit
Ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan mudahnya terjadi fraktur pada anak. Terutama penyakit yang disebabkan oleh karena defisiensi kalsium.
 Kontraksi yang berlebihan
3. Pertolongan Pertama untuk Fraktur Servikal
Setiap cedera kepala atau leher harus dievaluasi adanya fraktur servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan suatu keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher .
Jika ada kemungkinan patah tulang leher, leher pasien tidak boleh digerakkan sampai tindakan medis diberikan dan X-ray dapat diambil. Itu jalan terbaik untuk mengasumsikan adanya cedera leher bagi siapa saja yang terkena benturan, jatuh atau tabrakan.
4. Manifestasi klinik
 Nyeri kepala
 Nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan
 Memar dan bengkak di bagian belakang leher
 Kelumpuhan organ-organ terutama. Hal ini terjadi karena adanya gangguan atau bahkan putusnya sitem saraf pada daerah spinal yang terjepit oleh tulang yang patah pada daerah tersebut.
5. Patofisiologi
Terjadinya trauma pada daerah tulang leher mengakibatkan fraktur. Akibat kondisi seperti ini, pusat-pusat persarapan akan terjadi gangguan. Gangguan ini diakibatkan karena terjepitnya saraf-saraf yang melalui daerah vertebra.
Karena vertebra merupakan pusat persarapan bagi berbagai organ, maka kerja organ-organ tersebut akan terganggu atau bahkan mangalami kelumpuhan, akibat fraktur ini pula, akan mengakibatkan blok saraf parasimpasi dan pasien akan mengalami iskemia dan hipoksemia. Dan akhirnya akan mengalami gangguan kebutuhan oksigen
Cedera yang terjadi juga akan mengakibatkan pelepasan mediator-mediator kima yang akan menimbulkan nyeri hebat dan akut selanjutnya terjadi syok spinal dan pasien akan merasa tidak nyaman.
Gangguan sistem saraf spinal akan mengakibatkan kelumpuhan pada organ-organ pencernahan dan sistem perkemihan. Dan masalh yang akan terjadi adalah gangguan eliminasi.
6. Klasifikasi
 Subluksasi atlantoaksial:
Rongga antara setinggi odontoid dan bagian posterior dari C1 harus tidak lebih dari 3 mm pada orang dewasa dan 5 mm pada anak-anak.
 Fraktur Jefferson:
Fraktur yang keras di lateral C1 akibat cedera kompersi pada verteks tengkorak
 Fraktur peng Odontoid
 Fraktur Hangman:
cedera hyperekstensi pada C2 yang menyebabkan fraktur pedikel.
 Fraktur teardrop:
Suatu fragmen kecil mengalami avulsi dari badan vertebra anterior bagian bawah
 Fraktur badan vertebra
Fraktur kompresi pada tubuh

Penyimpangan KDM


Pemeriksaan diagnostik

 Sinar x spinal : menlentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislok)
 CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas
 MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal
 Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru
 AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi
7. Penatalaksanaan
Penanganan fraktur servikal tergantung vertebra servikalis apa yang rusak dan luasnya fraktur.
 Fraktur minor sering diperlakukan menggunakan cervical collar atau neck brace yang dipakai selama enam sampai delapan minggu sampai tulang sembuh dengan sendirinya.
 Hormon Progesteron untuk Trauma Capitis Berat
 Suatu fraktur yang lebih berat atau kompleks mungkin memerlukan traksi, atau perbaikan bedah atau fusi tulang belakang.
 Bedah perbaikan patah tulang servikalis dapat mengakibatkan waktu pemulihan yang lama diikuti dengan terapi fisik.

B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
 Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal
 Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi, bradikardia ekstremitas dingin atau pucat
 Eliminasi : inkontenensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut, peristaltik usus hilang
 Integritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah dan menarik diri.
 Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang
 Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL
 Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid, hilangnya sensai dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi pupil, ptosis.
 Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma, dan mengalami deformitas pada derah trauma.
 Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis
 Keamanan : suhu yang naik turun
Pemeriksaan Fisik
 Tinjauan umum
1) Keadaan umum
2) Gaya berjalan
3) Postur
4) Aktivitas fisik
5) Penampilan fisik umum
 Inspeksi
1) Kesimetrisan bagian tubuh
2) Ekimosis
3) Laserasi
4) Deformitas yg tampak
5) Massa
6) Warna kulit
7) Deformitas kongenital
 Palpasi
1) Krepitus
2) Suhu
3) Konsistensi otot
4) Massa
5) Nyeri tekan
6) Deformitas
7) Pembengkakan
 Move (pergerakan)
1) Nyeri saat bergerak
Rentang gerak sendi
2. Diagnosa keperawatan
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cedera
d. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum
e. perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat perkemihan
f. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
3. Intervensi keperawatan
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma
Tujuan perawatan : pola nafas efektif setelah diberikan oksigen
Kriteria hasil : ventilasi adekuat, PaO2 > 80, PaCo2 < 45, rr = 16-20 x/mt, tanda sianosis – Intervensi keperawatan : 1. Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak. Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas. 2. Lakukan penghisapan lendir bila perlu, catat jumlah, jenis dan karakteristik sekret. Rasional : jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret, dan mengurangi resiko infeksi pernapasan. 3. Kaji fungsi pernapasan. Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara partial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan. 4. Auskultasi suara napas. Rasional : hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang berakibat pnemonia. 5. Observasi warna kulit. Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera 6. Kaji distensi perut dan spasme otot. Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma 7. Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari. Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai ekspektoran. 8. Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan. Rasional : menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan. 9. Pantau analisa gas darah. Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat. 10. Berikan oksigen dengan cara yang tepat : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan. 11. Lakukan fisioterapi nafas. Rasional : mencegah sekret tertahan b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan Tujuan perawatan : selama perawatan gangguan mobilisasi bisa diminimalisasi sampai cedera diatasi dengan pembedahan. Kriteria hasil : tidak ada kontrakstur, kekuatan otot meningkat, pasien mampu beraktifitas kembali secara bertahap. Intervensi keperawatan : 1. Kaji secara teratur fungsi motorik. Rasional : mengevaluasi keadaan secara umum 2. Instruksikan pasien untuk memanggil bila minta pertolongan. Rasional memberikan rasa aman 3. Lakukan log rolling. Rasional : membantu ROM secara pasif 4. Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki. Rasional mencegah footdrop 5. Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling. Rasional : mengetahui adanya hipotensi ortostatik 6. Inspeksi kulit setiap hari. Rasional : gangguan sirkulasi dan hilangnya sensai resiko tinggi kerusakan integritas kulit. 7. Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam. Rasional : berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang berhubungan dengan spastisitas. c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cedera Tujuan keperawatan : rasa nyaman terpenuhi setelah diberikan perawatan dan pengobatan Kriteria hasil : melaporkan rasa nyerinya berkurang Intervensi keperawatan : 1. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-5. Rasional : pasien melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cedera. 2. Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus. Rasional : nyeri dipengaruhi oleh; kecemasan, ketegangan, suhu, distensi kandung kemih dan berbaring lama. 3. Berikan tindakan kenyamanan. Rasional : memberikan rasa nayaman dengan cara membantu mengontrol nyeri. 4. Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi. Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol. 5. Berikan obat antinyeri sesuai pesanan. Rasional : untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan istirahat. d. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum. Tujuan perawatan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi alvi/konstipasi Kriteria hasil : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali Intervensi keperawatan : 1. Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya. Rasional : bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal. 2. Observasi adanya distensi perut. 3. Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT. Rasional : pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma dan stress. 4. Berikan diet seimbang TKTP cair : meningkatkan konsistensi feces 5. Berikan obat pencahar sesuai pesanan. Rasional: merangsang kerja usus e. perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat perkemihan. Tujuan perawatan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan Kriteria hasil : produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi uirine tidak ada Intervensi keperawatan: 1. Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam. Rasional : mengetahui fungsi ginjal 2. Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih. 3. Anjurkan pasien untuk minum secukupnya. Rasional : membantu mempertahankan fungsi ginjal. 4. Pasang dower kateter. Rasional: membantu proses pengeluaran urine f. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama Tujuan keperawatan : tidak terjadi gangguan integritas kulit selama perawatan Kriteria hasil : tidak ada dekibitus, kulit kering Intervensi keperawatan : 1. Inspeksi seluruh lapisan kulit. Rasional : kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer 2. Lakukan perubahan posisi sesuai pesanan Rasional: untuk mengurangi penekanan kulit 3. Bersihkan dan keringkan kulit. Rasional: meningkatkan integritas kulit 4. Jagalah tenun tetap kering. Rasional: mengurangi resiko kelembaban kulit 5. Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan Rasional : meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan menurunkan tekanan pada kulit serta mengurangi kerusakan kulit. 4. Implementasi  Pertahankan imobilasasi terutama bagian kepala dan leher  Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif.  Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan  Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema.  Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan perubahan fungsi motor/sensori  Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut, khususnya selama beberapa hari pertama.  Perhatikan peningkatan kegelisahan,kacau,letargi,stupor.  Awasi frekuensi pernapasan dan upayanya. Perhatikan stridor, penggunaan otot bantu, retraksi, terjadinya sianosnis sentral.  Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan  Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi.  Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi  Observasi keadaan kulit, penekanan cervical collar atau neck brace  Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen.  Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi  Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran.  Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik. 5. Evaluasi Dx1: : ventilasi adekuat, PaO2 > 80, PaCo2 < 45, rr = 16-20 x/mt, tanda sianosis – Dx2 : tidak ada kontrakstur, kekuatan otot meningkat, pasien mampu beraktifitas kembali secara bertahap. Dx 3 : melaporkan rasa nyerinya berkurang Dx 4 : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali Dx 5: produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi uirine tidak ada Dx 6 : tidak ada dekibitus, kulit kering   DAFTAR PUSTAKA Doenges.E.,Marilyn., dkk.2002.Rencana asuhan Keperawatan ed.3. Jakarta. EGC. Hidayat A. Aziz Alimul, S.Kp. 2008. Buku Saku Praktikum Keperawatan Anak. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran ECG.Jakarta. Jones & Bartlett Publisher, Inc.2007.Pertolongan Pertama dan RJP pada Anak, Ed. 4. Jakarta.Arcan. Patel R. Pradip.2007.Radiologi Edisi 2. Jakarta.Penerbir Erlangga. Nurachmah Elly & Ratna S. 2000. Buku Saku Prosedur Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta.EGC.

Asuhan Keperawatan Apendisitis

KONSEP TEORI
A. Defenisi
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis) (Suzanne, 2002).
Apendisitis merupakan merupakan peradangan pada apendiks (kantung buntu pada caecum) yang dapat menjadi keadaan darurat, khususnya dalam pembedahan pada anak. Secara umum apendiks ini melekat pada caecum, dan pada anak umumnya tidak lurus dan memperlihatkan sebuah lipatan. Apabila terjadi peradangan apendiks maka akan terjadi akumulasi dari eksudat purulen dalam lumen dan dapat terjadi obstruksi, akibatnya suplai darah berkurang, pembuluh darah juga akan mengalami kerusakan (Hidayat, 2008).
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan (Mansjoer, 2000).
Apendisitis, penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka , pria lebih sering dipengaruhi daripada wanita, dan remaja lebih sering pada orang dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapa pun, apendisitis paling sering antara usia 10 dan 30 tahun (Suzanne, 2002).

B. Etiologi
Appendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi dan faktor yang tersering adalah obstruksi lumen :
1. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
2. Adanya benda asing seperti cacing
3. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
4. Sebab lain misalnya keganasan (karsinoma)

C. Manifestasi Klinik
 Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan sering kali muntah.
 Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
 Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare
 Tanda rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran kanan bawah, yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah)
 Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk

D. Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlibat atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dan feses), tumor, atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi di kudran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya, apendiks yang terinflamasi berisi pus.
Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan , mengakibatkan edema, dianpedesis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Pepat radangan yang timbul meluas dan mengenai peritenoum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini di sebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks akan diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi .
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan berjalan kea rah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lenig panjang, dinding apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut di tambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.





E. Penyimpangan KDM
PENYIMPANGAN KDM APENDISITIS




















F. Penunjang diagnostik
1. Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Leukosit meningkat lebih 12.000/mm3, neutrofil menungkat sampai 75% sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi.
a. Hb (hemoglobin) nampak normal
b. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat
c. Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
3. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa appendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma
4. Foto Abdomen
Dapat menyatakan adanya pergeseran material dari apendiks (fekalit), ileus terlokalisir.


G. Penatalaksanaan
a) Medik
 Terapi bedah : appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting.
 Terapi antibiotik, tetapi anti intravena harus diberikan selama 5 – 7 hari jika appendicitis telah mengalami perforasi.
b) Keperawatan
Perawatan prabedah perhatikan tanda–tanda khas dari nyeri
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan lepas), peninggian laju endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal pada sisi kanan. Pasien disuruh istirahat di tempat tidur, tidak diberikan apapun juga per orang. Cairan intravena mulai diberikan, obat – obatan seperti laksatif dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.











KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluahan utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.
b. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
Apakah pasien pernah dirawat dengan penyakit yang sama atau penyakit lain yang berhubungan dengan apendiks, sehingga menyebabkan penyakit apendisitis.
c. Data focus
1. Data subjektif
 nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah.
 keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama
 Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
2. Data objektif
 Demam, biasanya rendah.
 Data psikologis Klien nampak gelisah.
 Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
 Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
d. Pemeriksaan fisik
1) Biodata Klien
2) Riwayat Masalah kesehatan pasien meliputi:
a) Aktivitas/ istirahat
 Malaise
b) Sirkulasi
c) Eliminasi
 Konstipasi pada awitan awal
 Disfensi abdomen,nyeri tekan/nyeri lepas.
d) Integritas ego
 Perasaan cemas,takut
 Factor-faktor stress
 Tidak dapat beristrahat,peningkatan ketegangan.
e) Makanan/cairan
 Anoreksia dan mual,muntah
 Membrane mukosa yang kering
d) Nyeri/kenyamanan
 Nyeri abdomaen sekitar epigastrium dan umbilicus,yang meningkat berat.
 Nyeri lepas pada sisi kiri di duga inflamasi peritoneal.
e) Keamanan
 Demam
f) Pernapasan
 Takipnea
 Pernapasan dangkal
B. Diagnosa
1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
3. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake menurun
5. Deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
6. Kurang pengetahuan terhadap proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi
C. Intervensi
 Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
Tujuan : rasa nyeri akan teratasi
Intervensi :
• Mengkaji tingkat nyeri,lokasi, dan karateristik nyeri
Rasional : untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indikator secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya
• Menganjurkan pernapasan dalam
Rasional : pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri
• Memberikan analgesic
Rasional : untuk menghilangkan rasa nyeri(apabila sudah mengetahui gejala pasti)
 Dx 2: Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Intervensi
• Membersihkan lapangan operasi dari beberapa organism yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran
Rasional : pencukuran dengan arah yang berlawan dengan arah tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut,sehingga benar-benar bersih
• Menganjurkan klien mandi dengan sempurna
Rasional : kulit yang bersih mempunyai arti terhadap timbulnya mikroorganisme
• HE tentang pentingnya kebersihan diri klien
Rasional : dengan pemahaman klien,klien dapat bekerja sama dalam melakukan tindakan.
 Dx 3 : Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah
Tujuan : mempertahankan keseimbangan volume cairan
Intervensi :
• Memonitar tanda-tanda vital
Rasional : merupakan indicator secara dini tentang hipovolemia
• Memonitor intake,output,dan konsentrasi urine
Rasional : menurunnya output dan konsentrasi urine akan meninkatkan kepekaan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan
• Memberikan cairan sedikit demi sedikit tapi sering
Rasional : untuk meminimalkan hilangnya cairan
 Dx 4: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake menurun
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
• Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : mengawasi keefektifan secara diet
• Memberikan makan sedikit tapi sering
Rasional : tidak member rasa bosan dan pemasukan dapat ditingkatkan
• Memberikan makanan yang bervariasi
Rasional : makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien
 Dx 5 : Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
• Memberikan HE pada klien tentang pentingnya kebrsihan diri Rasional : agar klien dan keluarga termotivasi untuk menjaga kebersihan
• Meberikan pujian kepada klien tentang kebersihannya
Rasioal : agar klien merasa tersanjung daan lebih memperhatikan kebersihan
• Membimbing kelurga klien untuk memendikan
Rasional : agar keterampilan dapat diterapkan
 Dx 6 : kurang pengetahuan terhadap proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : klien akan memahami perawatan post operasi dan pengobatan
Intervensi :
• Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi
Rasional : klien dapat memahami dan dapat merencanakan setra melaksanakannya setelah operasi
• Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi proses istirahat setelah operasi.
Rasional :mencegah luka baring dan mempercepat penyembuhan.
D. Evaluasi
1) Nyeri dapat teratasi
2) Tidak terjadi infeksi
3) Dapat mempertahankan keseimbangan volume cairan
4) Klien mampu merawt diri sendiri
5) Klien mampu menjaga kebersihan diri
6) Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya

Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Damaiyanti, 2008).
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak (nurse87, 2009).

B. Penyebab
a) Faktor predisposisi
1) Faktor perkembangan
Terjadi bila tugas-tugas perkembangan pada setiap tahap tidak terpenuhi atau kegagalan individu dalam menyelesaikan pada fase tumbuh kembangnya. Adapun tugas perkembangan yang berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal dapat dilihat pada tabel berikut
Tahap perkembangan Tugas Akibat kegagalan
Masa bayi Mentapkan landasan rasa percaya Rasa tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain, serta menarik diri
Masa toddler Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri Ketergantungan, tidak mampu menerima tanggung jawab
Masa pra sekolah Belajar menunjukkan inisiatif dan rasa tanggung jawab serta hati nurani Ragu, menarik diri dari lingkungan, kurang percaya diri, pesimis, takut perilaku salah
Masa sekolah belajar berkompetisi, bekerja sama dan berkomfromi Frustasi terhadap kemampuannya, putus asa, merasa tidak mampu dan menarik diri dari lingkungan
Masa pra remaja Menjadi intim dengan teman sesame jenis Keraguan atas identitas dan depersonalisasi
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan jenis dan tidak tergantung pada orang tua Ketidakmampuan mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri yang kurang
Masa dewasa awal Menjadi saling tergantung dengan orang tua dan teman, menikah, memiliki anak Menghhindari hubungan intim, menjauhi orang lain, putus asa akan karir
Masa dewasa tengah Belajar menerima Perhatian yang tertuju pada diri sendiri, produktifitas dan kreatifitas berkurang, perhatian pada orang lain berkurang
Masa dewasa akhir Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterkaitan dengan budaya Perilaku menarik diri


2) Faktor biologis.
Organ tubuh dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan social. Misalnya kelainan struktur otak dan struktur limbic diduga menyebabkan skizofrenia. Pada klien skizofrenia terdapat gambaran struktur otak yang abnormal; otak atrofi, perubahan ukuran dan bentuk sel limbic dan daerah kortikal.
3) Faktor sosiokultural
Norma-norma yang salah di dalam keluarga atau lingkungan dapat menyebabkan gangguan hubungan social. Misalkan pada pasien lansia, cacat, dan penyakit kronis yang diasingkan dalam lingkungan.

b. faktor presipitasi
Stressor pencetus pada umumnya mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.
Stressor pencetus dapat dikelompokan dalam dua kategori antara lain:
1) Stressor sosiokultural
Adalah stress yang ditimbulkan oleh social dan budaya masyarakat. Kejadian atau perubahan dalam kehidupan social budaya memicu kesulita berhubungan dengan orang lain dan cara berperilaku.
2) Stressor psikologis
Adalah stress yang disebabkan karena kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya individu untuk tidak mempunyai kemampuan mengatasinya .

c. Prilaku
Perilaku pada klien meliputi :
1) Kurang spontan
2) Apatis (tidak mengacuhkan lingkungan)
3) Ekspresi wajah murung
4) Tidak mau merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
5) Menurunnya atau tidak adanya komunikasi verbal
6) Tidak atau kurang sadar lingkungan sekitarnya
7) Intake makan dan minum terganggu
8) Retensi urin dan vases
9) Aktivitas menurun
10) Kurang harga diri

d. Mekanisme koping
Mekansme pertahanan diri yang sering digunakan pada masing-masing gangguan social yaitu :
1) regresi yaitu perkembangan atau tingkah laku yang mundur
2) proyeksi yaitu kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri dilontarkan pada orang lain.
3) represi yaitu mengesampingkan impuls atau ingatan yang menyakitkan
4) isolasi yaitu menghindarkan diri dari interaksi dengan lingkungan luar













BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. pengkajian
Pengkajian pada pasien isolasi sosial dapat dilakukan melalui wawancara dan observasi:
Adapun hal-hal yang perlu dikaji dalam wawancara yaitu (budi Anna, 2009:
1) Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
2) Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3) Pasien mengatakn hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
4) Pasien merasa lambat dan bosan menghabiskan waktu
5) Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
6) Pasien merasa tidak berguna
7) Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
B. Pohon Masalah








C. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan pohon masalah diatas, maka diagnose keperawatannya adalah (pendahuluan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006, editor Budi Santoso)
1. Gangguan sensori/presepsi; halusinasi pendengaran
2. Isolasi social
3. Defisit perawatan diri


D. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan Rasional
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1 Isolasi Sosial : Menarik Diri TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
TUK :
1. pasien dapat membina hubungan saling percaya





























2. pasien dapat menyadari penyebab isolasi sosial





























3. pasien dapat berinteraksi dengan orang lain





1.1 pasien mampu berkomunikasi dengan baik dengan perawat

























1.2 pasien dapat menyebutkan penyebab dan tanda menarik diri


























1.3 pasien mampu berinteraksi dengan perawat, keluarga, dan pasien lain




1.1.1. membina hubungan saling percaya:
a. ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien
b. berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama lengkap dan nama panggilan perwat serta tanykan nama lengkap dan nama panggilan pasien
c. tanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini
d. buat kontrak asuhan: apa yang perawat akan lakukan bersama pasien, berapa lama akan dikerjakan dan tempat pelaksanaan kegiatan
e. jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi
f. tunjukkan sikap empati terhadap pasien setiap saat
g. penuhi kebutuhan dasar ppasien jika mungkin

1.2.1. membantu pasien mengenal penyebab isolasi social dengan cara:
a. tanyakan kebiasaan pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
b. tanyakan penyebab pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
1.2.2. bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien memiliki banyak teman
1.2.3. membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan cara sebagai berikut:
a. diskusikan kerugian jika pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain
b. jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik pasien

1.3.1. membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara berhap Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya

























Memberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stress dan penyebab perasaan menarik diri
























• Mengeksplorasi perasi klien Sterhadap perilaku menarik diri yang biasa dilakukan
• Untuk mengetehui perilaku menarik diri dilakukan dan dengan bantuan perawat bias membedakan perilaku konstruktif dan destruktif


No Pasien Keluarga
SP 1 P SP I K
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya.
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi social
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian
SP II P SP II K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan isolasi social
2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien isolasi social
3. Membantu pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
SP III P SP III K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)
2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
E. Intervensi Keperawatan



F. TERAPI
1. TAKS (Terapi Aktivitas Kelompok : Sosialisasi)
Terapai aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan social.
Tujuan :
1. Klien mampu memperkenalkan diri
2. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
3. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
4. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topic percakapan
5. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi kepada orang lain
6. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
7. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang dilakukan
Setting :
1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang
Alat
1. Tape recorder
2. Kaset
3. Bola tenis
4. Buku catatan dan pulpen
5. Jadwal kegiatan pasien
Metode :
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab
3. Bermain peran / simulasi
Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai indikasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan:
a. Member salam terapeutik: salam dari terapis
b. Evaluasi/validasi: menanyakan pasien saat ini
c. Kontrak:
1) Menjelasakan tujuan kegiatan, yaitu memperkenalkan diri
2) Menjelaskan aturan main berikut
- Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus meminta izin keppada klien
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan hingga selesai
3. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu kaset pada tape recorder akan dihidupkan serta bola diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam (yaitu kea rah kiri) dan pada saat tape dimatikan maka anggota kelompok yang memegang bola memperkenalkan dirinya.
b. Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis berlawan dengan arah jarum jam.
c. Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang bola dapat giliran untuk menyebutkan: salam, nama lengkap, nama panggilan, hobi dan asal yang dimulai oleh terapis sebagai contoh
d. Tulis nama panggilan pada kertas/papan nama da temple/pakai
e. Ulangi kegiatan b, c, d sampai semua anggota kelompok mendapat giliran
f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan member tepuk tangan.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan kepada klien setelah mengikuti TAK
2) Member pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan diri kepada orang lain dikehidupan sehari-hari
2) Memasukkan kegiatan memperkenalakan diri pada jadwal kegiatan harian klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati kegiatan berikut, yaitu berkenalan dengan anggota kelompok
2) Menyapakati waktu dan tempat

2. Terapi medik (linda carman copel,2007):
a. Obat antipsikotik member intervensi farmakologis untuk menangani gejala skizofrenia akut dan kronik dengan meredakan agitasi psikomotor, agresi, kegelisahan berat dan insomnia
b. Obat-obatan anti psikotik dapat menurunkan halusinasi, waham, dan gangguan pikiran setelah kadar terapeutik dalam darah tercapai
c. Pengobatan menurunkan perilaku kacau dan destruktif (gejala positif) dan memfasilitasi intrvensi terapeutik lain yang mengatasi gangguan rasa diri dan kurangnya hubungan dengan orang lain (gejala negative). Obat-obatan anti psikotik yang tidak khas, seperti klozapin (clozaril) dan risperidon (risperdal), menawarkan beberapa perbaikan gejala positif maupun negative. Oleh karena itu, kombinasi psikoterapi dan terapi obat direkomendasikan.
d. Monitor efek samping ektrapiramidal pada klien karena pengobatan dengan menggunakan antipsikotik dapat memblok reseptor dopamin pascasinaps di otak. Blockade reseptor ini dapat menyebabkan pseudoparkinsonisme dan efek ekstrapiramidal lain, seperti diskinesia Tardif. Untuk mengontrol efek samping ini, banyak klien mendapatkan obat-obatan antiparkinson.
G. Evaluasi
1. Pasien
a. Mampu menyebutkan penyebab isolasi social
b. Mampu menyebutkan manfaat berinteraksi dengan orang lain
c. Mampu menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
d. Mampu berkenalan dengan satu orang
e. Mampu berkenalan dengan dua orang atau lebih
f. Mampu Memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai satu kegiatan harian
g. Melakukan perbincangan dengan orang lain sesuai jadwal harian
2. Keluarga
a. Menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala isolasi social
b. Menyebutkan cara-cara merawat pasien isolasi social
c. Mendemonstrasikan cara merawat pasien isolasi social
d. Menyebutkan tempat rujukan yang sesuai untuk pasen isolasi sosial

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna & akemat.2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.EGC.Jakarta
http://nurse87.wordpress.com/2009/06/04/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-isolasi-sosial/ (diakses pada tanggal 28 november 2010).


Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler