12 January 2012

Asuhan keperawatan; Laryngitis


Judu; Askep Laryngitis
Umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut atau manifestasi dan radang saluran napas atas. Pada anak dapat menimbulkan sumbatan jalan napas dengan cepat karena tima glotisnya relatif lebih sempit.
 Laryngitis adalah infalamasi laring akibat terlalu banyak menggunakan suara, pemajanan terhadap debu, bahan kimiawi asap dan polutan lainnya atau bagian dari saluran nafas atas.
Laryngitis merupakan peradangan pada laring yang dapat menyebabkan suara parau.pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal dan kadang-kadang pada pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa

Klasifikasi laryngitis
            Laryngitis di bagi atas 2 bagian yaitu:
-Laryngitis akut: pada orang dewasa hanya penyakit ringan saja,tetapi pada anak berbeda karena disertai batuk keras,suara serak sampai afoni,sesak napas dan stridor.
Hal ini disebabkan :
-rima glotis relative lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa
-mengandung lebih banyak pembuluh darah/getah bening
-ikatan mukosa dengan jaringan dibawahnya masih lebih longgar
Laryngitis kronis: Faktor eksogen (rangsangan fisik oleh penyalahgunaan suara,kimia,infeksi kronis salurannapas atas dan bawah, asap rokok). Factor endogen (bentuk tubuh dan kelainan metabolic)

ETIOLOGI

Bakteri (local) atau virus (sistemik). Biasanya merupakan perluasan radang saluran napas atas oleh bakteri Haemophilus influenzae. Stafilokok, streptokok, dan pneumokok. 

FAKTOR FREDISPOSISI

Perubahan cuaca/suhu, gizi kurang malnutrisi, imunisasi tidak lengkap, dan pemakaian suara berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS
Demam, malaise, gelaja rinigaringitis, suara parau sampai afoni, nyeri ketika menelan atau berbivara, rasa kering ditenggorokan, batuk kering yang kelamaan disertau dahak kental, gejala sumbatan laring sampai sianosis.
Pada pemeriksaan, tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan bahwa pita suara. Biasanya tidak terbatas di laring, juga ada tanda radang akut dihitung sinus peranasak, atau paru
Pada bayi dengan kelainan congenital laring disebabkan gejala sumbatan jalan napas,suara tangis melemah sampai tidak ada sekali serta kadang-kadang ada juga dispagia.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan dengan laringoskopi direk atau indirek dapat membantu menegakkan diagnosis
Defenisi
Laringoskopi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan untuk melihat daerah larinks (pita suara).
Deskripsi
Tujuan dan keuntungan pemeriksaan ini adalah melihat langsung larinks untuk mendeteksi adanya tumor, benda asing, kerusakkan saraf atau struktur lain atau kelainan-kelainan lain. Ada dua cara pemeriksaan ini agar dapat memeriksa larinks secara langsung. Pertama, dengan menggunakan selang yang lentur (fleksibel) dengan suatu alat serat optik yang disusupkan melalui hidung dan dimasukkan terus hingga masuk ke dalam tenggorokan. Metode lainnya adalah menggunakan selang kaku yang dimasukkan langsung dari mulut hingga ke dalam larinks. Kedua metode ini, pada endoskopnya terdapat sebuah lampu dan lensa. Selang endoskopik ini juga dilengkapi dengan alat penyedot lendir atau kotoran. Disamping itu juga dapat berfungsi sebagai biopsi untuk mengambil contoh jaringan. Salah satu jenis pemeriksaan lainnya adalah bronkoskopi. Prosedur pemeriksaan bronkoskopi lebih dalam lagi, dimana selang dimasukkan lebih jauh dari larinks hingga mencapai trakea dan bronchus.

Persiapan

Prosedur tindakan laringoskopi dilakukan di rumah sakit, dilakukan dengan menggunakan bius lokal (cairan obat bius yang disemprotkan) untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan refleks muntah pada saat selang dimasukkan ke dalam larinks. Pasien diharuskan tidak makan (puasa) beberapa jam sebelum tindakan.

Perawatan Setelah Tindakan

Jika tenggorokan mengalami luka lecet yang perih, maka rasa nyeri dapat diatasi dengan cairan penyejuk ataupun obat isap.

Resiko

Tindakan pemeriksaan laringoskopi tidak menyebabkan masalah yang serius, walaupun pasien mengalami luka lecet perih pada tenggorokan atau batuk dengan sedikit darah akibat luka lecet dari daerah yang mengalami iritasi tersebut.

Hasil Normal

Hasil pemeriksaan dikatakan normal jika tidak ada tanda-tanda penyakit ataupun kerusakkan jaringan.

Hasil Abnormal

Hasil laringoskopi dikatakan abnormal jika ditemukan tumor ataupun kelainan pada jaringan; dan pada keadaan ini harus dilakukan pengambilan contoh jaringan untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Selang Endotrakhea
Selang EndoskopiAdalah selang yang dimasukkan ke dalam organ yang berongga agar dapat dilihat dan dinilai organ yang akan diperiksa secara langsung oleh dokter. 
PENATALAKSANAAN
Istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari menghirup udara lemab dan menghindari iritasi pada laring dan faring. Untuk terapi mendikamentosa diberikan antibiotic penisilin anak 3 x 0 kg BB dan dewasa 3 x 500 mg. bila alergi dapat diganti eritromisin atau basitrasin. Dan diberikan kortikosteroid untuk mengatasi edema. Dipasang pipa endotrakea atau trakeostomi bila terdapat sumbatan laring.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Riwayat kesehatan pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda dan gejala sakit kepala, sakit tenggorok, dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi hidung, kesilutan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat, dan rasa tidak nyeman umum dan keletihan. Menetapkan kapan gejala mulai timbul, apa yang menjadi pencetusnya, apa yang bisa menghilangkan atau meringankan gejala tersebut, dan apa yang memperburuk gejala tersebut adalah bagian dari pengkajian, juga mengidentifikasi setiap riwayat alergi atau adanya penyakit yang timbul bersamaan.Inspeksi menunjukkan pembengkakan, lesi atau asimetris hidung, juga pendarahan atau rabas. Mukosa hidung diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warna kemerahan, pembengkakan, atau eksudat dan polip hidung, yang mungkin terjadi dalam rhinitis kronis.
Sinus frontal dan maksilaris dipalpasi terhadap nyeri tekan, yang menunjukkan inflamasi. Tenggorok diamati Dengan meminta klien membuka mulutnya lebar-lebar dan nafas dalam. Tonsil dan faring diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warma kemerahan, asimetris, atau adanya drainase, ulserasi, atau pembesaran.
Trakea dipalpasi terhadap posisi garis tengah dalam leher, dan setiap massa atau deformitas diidentifikasi. Nodus limfe leher juga dipalpasi terhadap pembesaran dan nyeri tekan yang berkaitan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.  Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan Dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi
2. Nyeri yang berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : sakit kepala, nyeri otot dan sendi, perilaku distraksi,gelisah.
3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.
4.Defisit kekurangan cairan yang berhungan dengan peningkatan kekurangan cairan sekunderakibat diaphoresis yang berkaitan dengan demam.
INPLEMENTASI
Tujuan :
pasien dapat mencakup pemeriksaan potensi jalan nafas,menghilangkan nyeri,pemeliharaan efektif komunikasi, tidak terjadi deficit volume cairan
INTERVENSI
1.    Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan Dengan sekresi berlebihan sekunder akibat      proses inflamasi

v  Intervensi
*      Kaji frekwensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
R/: Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau cairan paru.
*      Auskultasi area paru, catat area penurunan, atau tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius, mis: krekels, mengi.
R/: Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi Dengan cairan.
Bunyi nafas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels, ronkhi, dan mengi terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan nafas/ obstuksi.
*      Bantu pasien latihan nafas sering, tunjukkan atau Bantu pasien mempelajari, melakukan batuk, mis: menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
R/: Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil.
Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten. Penekana menurunkan ketidaknyamanan badan dan posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.

Kolaborasi
*      Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesic.
R/: Alat untuk menurunkan spasme bronkus Dengan mobilisasi secret.
Analgesik diberikan untuk memperbaiki batuk Dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk atau menekanpernafasan.

2.    Nyeri yang berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : sakit kepala, nyeri otot dan sendi, perilaku distraksi,gelisah.

v  Intervensi :
Berikan tindakan nyaman mis : pijitan punggung, perubahan posisi, perbincangan, relaksasi/latihannafas.
R/: Tindakan non analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memeperbesar efek terapi analgetik.
*      Tawarkan pembersihan mulut dengan sering
R/: Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
Kolaborasi
*      Berikananalgesikdanantitusif sesuai indikasi.
R/: Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/paroksismal atau menurunkan mukosa berlebihan,meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.

3.  Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.

v  Intervensi:
*      Berikan pilihan cara komunikasi yang lain seperti papan dan pencil
R/: Cara komunikasi yang lain dapat mengistirahatkan laring untuk berkomunikasi secara verbal sehingga dapat meminimalkan penggunaan pita suara.
*      Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik, antisipasi kebutuhan.
R/: Sentuhan diyakini untuk memberikan peristiwa kompleks biokimia Dengan kemungkinan pengeluaran endokrin yang menurunkan ansietas.
4. Defisit kekurangan cairan yang berhungan dengan peningkatan kekurangan cairan sekunderakibat diaphoresis yang berkaitan dengan demam.
v  Intervensi
*      Berikan cairan sedikitnya 2500 mL /hari (kecuali kontraindikasi) Tawarkan air hangat, atau dingin.
R/: untuk dapat memenuhi cairan tubuh yang keluar akibat demam (khusus cairan yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.



EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1.    Mempertahankan jalan nafas tetap paten dengan mengatasi sekresi
·         Melaporkan penurunan kongesti
·         Mengambil posisi terbaik untuk memudahkan drainase sekresi
2.    Melaporkan perasaan lebih nyaman
·        Mengikuti tindakan untuk mencapai kenyamanan – analgesic, kumur, istirahat
·        Mempertahankan hygiene mulut yang adekuat
3.    Menunjukkan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan,keinginan dan tingkat kenyamanan
4.    Mempertahankan masukan cairan yang adekuat
5.    Mengidentifikasi strategi untuk mencegah infeksi jalan nafas atas dan reaksi alergi
6.    Menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup dan melkukan perawatan diri secara adekuat


DAFTAR PUSTAKA
Suzanne C. Smeltzert & Brenda G. Bare 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah.  Jakarta :  EGC
Hermani B. Kartosudiro S. & Absdurrahman B. 2003. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Twelinga Hidung dan Tenggorok Kepala leher. Jakarta : FKUI
Abdurrahman MH. 2003 Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak edisi ke 2. Jakarta :FKUI
Cody R Thane. Kwern B Lungene Pearson W Bruce. 1991 Buku Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan. Jakarta : EGC
Arief mansjoer. Suprohaita. Wahyu Ika Wardhani. & Wiwiek Setiowulan.2000 Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : FKUI
http://www.jevuska.com
http://doktermu.com/foto/alat-medis/laringoskopi

No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler