20 December 2012

Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas)


(PERILAKU SEKS BEBAS)
berikut ini adalah Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas). Semoga Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas) ini bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin melakukan penyuluhan Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas) ke pada masyarakat.
A.    Diagnosa
Resiko terjadinya perilaku seks bebas di kalangan remaja berhubungan dengan perkembangan system imformasi yang semakin tidak terbatas.
B.     Topik                                 : Seks Bebas
Sub Topik                    : Seks Bebas Pada Remaja

C.     Sasaran
Siswa SMA 5 Makassar
D.    Jadwal Kegiatan
Hari/Tanggal         : Rabu/20 Desember 2012
Waktu                   : 13.00- Selesai
E.     Tempat Pelaksanaa
Aula SMAN 5 Makassar
F.      Nama Penyuluhan
Sunandar Said, S.Kep
G.    Tujuan Penyuluhan
1.      Tujuan Umum
Setelah diadakan penyuluhan tentang seks bebas pada remaja , diharapkan dapat mencegah terjadinya free sex pada remaja
2.      Tujuan khusus
a.       Peseta dapat menjelaskan definisi seks bebas.
b.      Peseta dapat menjelaskan bahaya terhadap seks.
c.       Peseta dapat menjelaskan faktor penyebab dari seks bebas.
d.      Peseta dapat menjelaskan pencegahan prilaku seks bebas.
e.       Peseta dapat menjelaskan seluruh materi
H.    Kegiatan Penyuluhan
No
Materi
Kegiatan
1.
Pembukaan ( 10 menit)
1.      Membuka pertemuaan dengan mengucapkan salam.
2.      Memperkenalkan diri
3.      Menjelaskan tujuan umum dan tujuan khusus.
4.      Menyampaikan waktu / kontrak waktu yang akan digunakan dan mendiskusikan dengan peserta.
5.      Memberikan informasi yang akan di sampaikan pada hari ini.
2.
Proses ( 30 menit)
1.      Menjelaskan definisi seks bebas.
2.      Menjelaskan bahaya terhadap seks.
3.      Menjelaskan faktor penyebab dari seks bebas.
4.      Menjelaskan pencegahan prilaku seks bebas.
5.      Menyimpulkan seluruh materi.
3.
Evaluasi ( 10 menit )
1.      Memberikan soal secara lisan kepada peserta secara bergantian.
2.      Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya.
3.      Memberikan reward kepada peserta yang menjawab pertanyaan dengan benar.
4.      Peserta mengerti seluruh materi penyuluhan yang telah di sampaikan.
4.
Penutup ( 2 menit)
1.      Penyuluh mengucapkan terima kasih atas segala perhatian peserta.
2.      Mengucapkan salam penutup.
I.       Materi Penyuluhan:
1.      Definisi seks bebas.
2.      Bahaya terhadap seks bebas.
3.      Faktor penyebab dari seks bebas.
4.      Pencegahan prilaku seks bebas.
5.      Kesimpulan seluruh materi.
J.       Metode penyuluhan
ceramah, tanya jawab, demonstrasi
K.    Alat-alat yang digunakan
Poster, Brosur, lakban, Buku catatan dan pulpen, Papan pengumuman, Satuan Acara penyuluhan (SAP) dan Daftar Hadir penyuluhan.






LAMPIRAN MATERI
I.         PENDAHULUAAN
Latar Belakang
Masa pubertas merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa yang dimulai umur 8 – 14 tahun. Awal pubertas dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah bangsa, iklim, gizi dan kebudayaan. Secara klinis mulai tumbuh ciri-ciri kelamin sekunder, misalnya : tumbuh rambut pubis, ketiak, timbul jerawat pada wajah, peningkatan berat badan dan tinggi badan, pada wanita mengalami pembesaran buah dada dan pada pria terjadi perubahan pada suara dan tumbuh jakun.
Pada tahun 2009, jumlah penduduk remaja Indonesia 43,6 juta. Sebagian besar remaja (69,3%) – umur kawin pertama dalam usia belia (<18 span="span" tahun="tahun">
Seks bebas itu sendiri ada kaitannya dengan perilaku yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka misalnya, mereka bisa terserang virus HIV ataupun bayi yang mereka lahirkan tidak mempunyai status.
Oleh karena itu pemerintah harus mampu mengambil tindakan dan menyaring pengaruh yang berhak dan berdampak negatif bagi para remaja. Begitu pula peran remaja harus mampu mengendalikan diri dan menghindari hubungan seks pra nikah.
Upaya-upaya pencegahan pergaulan bebas adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama, moral dan etika, diantaranya : (1) Pendidikan agama, moral dan etika dalam keluarga. (2) kerjasama guru dan orangtua, tokoh masyarakat, pendidikan yang diberikan hendaknya tidak hanya kemampuan intelektual, tetapi juga mengembangkan kemauan emosi anak agar dapat mengembangkan rasa percaya diri.
II.      MATERI PENYULUHAN
Definisi Seks Bebas
Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.
Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang telah berumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang bukan pasangannya. Biasanya dilakukan dengan alasan mencari variasi seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan.
     Pada remaja biasanya akan mengalami kehamilan diluar nikah yang memicu terjadinya aborsi. Ingat aborsi itu sangatlah berbahaya dan beresiko kemandulan bahkan kematian. Selain itu tentu saja para pelakuseks bebas sangat beresiko terinfeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS, ataupun penyakit menular seksual lainnya.
Bahaya terhadap seks bebas
1.      Kehamilan pada usia dini yang sangat  beresiko
2.      Kemandulan akibat praktek aborsi
3.      Pendarahan yang bisa berakibat kematian pada praktek aborsi
4.      Hilangnya kesempatan untuk menuntut ilmu atau kehilangan masa depan karena harus menikah pada usia dini
5.      Terkena penyakit menular seksual
6.       Terkena virus HIV/AIDS
 Faktor penyebab dari seks bebas
Berdasarkan sumber dari beberapa berita mencatat beberapa factor penyebab perilaku nakal dan seks bebas di kalangan remaja, baik internal maupun eksternal. Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
1.      Faktor internal:
a.       Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b.      Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2.      Faktor eksternal
Adapun yang menjadi factor ekstrnal munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja adalah sebagai berikut :
a.       Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b.      Teman sebaya yang kurang baik
c.       Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
                  Hal-hal di atas yang merupakan factor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku remaja melakukan hubungan seks pra-nikah atau melakukan tindakan-tindakan kenakalan remaja yang sangat bervariasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa factor penyebab adanya perilaku seks bebas di kalangan remaja cukup kompleks dan sangat luas, yang meliputi:
·         kurangnya kasih sayang orang tua.
·         kurangnya pengawasan dari orang tua.
·         pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
·         peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
·         tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
·         dasar-dasar agama yang kurang
·         tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
·         kebasan yang berlebihan
·         masalah yang dipendam
 Pencegahan prilaku seks bebas
Ada beberapa upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas di kalangan remaja, yaitu sebagai berikut :
a.       Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
b.      Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
c.       Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
d.      Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
e.       Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
f.       Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
g.      Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
h.      Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
i.        Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
j.        Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
k.      Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
l.        Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
m.    Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
III.             KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik bebarapa kesimpulan, sebagai berikut:
1.      Populernya seks pra-nikah di kalangan remaja, karena adanya tekanan dari teman-teman, lingkungan atau mungkin pasangan sendiri.
2.      Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku seks bebas adalah krisis identitas dan kurangny control diri.
3.      Upaya untuk mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas yaitu orang tua harus memberi kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak remaja, adanya pengawasan yang tidak mengekang, bimbingan kepribadian dan pendidikan agama.
B.     SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal berikut, kepada:
1.      Para orang tua untuk memberi kasih sayang, pengawasan intensif dan perhatian, pendidikan kepribadian dan pendidikan agama yang cukup bagi bagi anak remajanya sehingga terhindar dari perilaku seks bebas.
2.      Para remaja untuk tidak melakukan dan terjun kedunia pergaulan bebas dan seks bebas, tetapi memperbanyak aktifitas-aktifitas, baik di sekolah maupun di rumah.
IV.             Terima kasih telah membaca Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas). Semoga Satuan acara Penyuluhan (peliraku sex bebas) ini bisa bermanfaat untuk teman-teman

1 comment:

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler