10 January 2013

Asuhan Keperawatan Kecemasan

Kali ini saya membagikan asuhan keperawatan kecemasan. selamat membaca.
A.   Pengertian
Kecemasan (ansietas) adalah sebuah emosi dan pengalaman subjektif dari seseorang dengan kata lain cemas adalah suatu keadaan yang membuat seseorang tidak nyaman dan terbagi dalam beberapa tingkatan. Jadi, cemas berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
Kecemasan atau ansietas adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,gelisah yang tidak menentu,takut,tidak tenteram,kadang-kadang disertai berbagai keluhan fisik.

Tingkatan Kecemasan
1.      Ansietas ringan.
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan lahan persepsinya meningkat. Kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
2.      Ansietas sedang.
Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih banyak jika diberi arahan.
3.      Ansietas berat.
Pada ansietas berat lapangan persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang sangat kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan,untuk dapat memusatkan pada daerah lain.
4.      Tingkat panik
Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan terpengarah, ketakutan dan teror. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika berlangsun terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan bahkan kematian.



Rentang respon
Rentang respon ansietas berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaftif, seperti terhadap terlihat pada gambar berikut.

                                               
                                               
                 Respon Adaptif                                            Respon Maladaptif
                  
                                          
                    Antisipasi            Ringan             Sedang       Berat            Panik
                  




B.   Etiologi.
1.      Faktor predisposisi (pendukung).
Ketengangan dalam kehidupan dapat berupa hal-hal sebagai berikut.
a.       Peristiwa traumatik
b.      Konflik emosional
c.       Gangguan konsep diri
d.      Frustasi
e.       Gangguan fisik
f.       Pola mekanisme koping keluarga
g.      Riwayat gangguan kecemasan
h.      Medikasi
2.      Faktor presipitasi.
a.       Ancaman terhadap integritas fisik
·         Sumber internal
·         Sumber eksternal
b.      Ancaman terhadap harga diri
·         Sumber internal
·         Sumber eksternal
C.   Tanda dan gejala
Gejala utamanya adalah kecemasan, ketegangan mtorik, hiperaktivitas otonom, dan kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering dimanifestasikan dengan gemetar, gelisah, dan nyeri kepala. Hiperaktivitas dimanifestasikan oleh sesak napas, keringat berlebihan, palpitasi, dan gejala gastrointestinal. Gejala lain adalah mudah tersinggung dan dikejutkan. Pasien sering kali datang ke dokter umum atau penyakit dalam dengan keluhan somatik yang spesifik.


D.   Proses terjadinya
Dapat berasal dari sumber internal dan eksternal dapat diklasifikasikan dalam dua jenis :
1.      Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisilogis yang akan terjadi atau menurunkan kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-sehari. Pada ancaman ini stresor yang berasal dari sumber eksternal adalah faktor-faktr yang dapat menyebabkan gangguan fisik (misal: infeksi virus, polusi udara). Sedangkan yang menjadi sumber internalnya adalah kegagalan mekanisme fisilogi tubuh (misal ; sisitem jantung, sistem imun, pengaturan suhu dan perubahan fisiologis selama kehamilan).
2.     Ancaman terhadap sisitem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang. Ancaman yang berasal dari sumber eksternal yaitu kehilangan rang yang berarti (meninggal, perceraian, pindah kerja), dan ancaman yang berasal dari sumber internal berupa gangguan hubungan interpersonal dirumah tempat kerja atau menerima peran baru.
E.    Mekanisme koping
Ada dua sistem koping yang digunakan pada seseorang yang mengalami kecemasan.
1.      Task orientasi reaction : individu menilai secara objektif.
2.      Ego oriented reaction : melindungi diri sendiri, tidak menggunakan secara realitas.
Sedangkan untuk mekanisme pertahanan ego bila digunakan terus-menerus akibatnya ego bukannya mendapatkan perlindungan, melainkan lama kelamaan akan mendapatkan ancaman/bencana. Oleh karena mekanisme ini tidak realistik, mengandung banyak unsur penipuan diri sendiri dan distorsi realitas (pemutarbalikan realitas) meliputi hal-hal berikut ini.
1.      Kompensasi
Menonjolkan kelebihan untuk menutupi kekurangan.
2.      Penyangkalan (denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas.
3.      Pemindahan (displacement)
Pengalihan emosi yang ditunjukan pada seseorang atau benda yang netral/tidak mengancam dirinya.
4.      Disosiasi
Pemisahan dari setiap proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitas.
5.      Identifikasi
Ingin menyamai seorang figur yang diidealkan, dimana salah satu ciri atau segi tertentu dari figur itu ditransfer pada dirinya. Dengan demikian ia merasa harga dirinya bertambah tinggi.
6.      Intelektualisasi
Alasan atau logoka yang berlebihan.
7.      Introjeksi
Merupakan bentuk sedeharna dari identifikasi, dimana nilai-nilai, norma-norma dari luar diikuti atau ditaati sehingga ego tidak lagi tergantung oleh ancaman dari luar.
8.      Proyeksi
Hal ini berlawanan dengan introjeksi, dimana menyalahkan orang lain atas kelalaian dan kesalahan-kesalahan atau kekirangan diri sendiri, keinginan-keinginan, serta implus-implus sendiri.
9.      Rasionalisasi
Memberi keteranagn bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional sehingga tidak menjatuhkan harga dirinya.
10.  Reaksi formasi.
Bertingkah laku berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan, perasaan yang sederhanya. Mudah dikenal karena sifatnya ekstrem dan sukar diterima.
11.  Regresi
Kembali ketingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang bersifat primitif).
12.  Represi
Penyingkiran unsur psikis (sesuatu afek, pemikiran, motif, konflik) sehingga menjadi hal yang dilupakan/tidak dapat diingat lagi). Represi menbantu individu mengontrol implus-implus yang berbahaya.
13.  Sublimasi
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Implus yang berasal dari Id yang sukar disalurkan oleh karena mengganggu individu atau masyarakat. Oleh karena itu, implus harus diubah bentuknya sehingga tidak merugikan individu/masyarakat sekaligus mendapatkan pemuasan.
14.  Supresi
Menekan hal atau pikiran yang tidak menyenangkan, dapat mengarahkan ke represi.
15.  Undoing.
Meniadakan pikiran-pikiran, implus yang tidak baik, seolah-olah menghapus suatu kesalahan.

Untuk mekanisme koping terhadap kecemasan meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.      Menyerang
Pola konstruktif: berupa memecahkan masalah secara efektif.
Pola destruktif: marah dan bermusuhan.
2.      Menarik diri
Menjauhi sumber strees.
3.      Kompromi
Mengubah cara bekerja atau cara penyelesaian, menyesuaikan tujuan atau mengorbankan salah satu kebutuhan pribadi.
F.    Data yang perlu dikaji
Pengkajian
1.      Faktor predisposisi
a.       Tumbuh kembang : gangguan dalam perkembangan persepsi, berpikir, dan hubungan dengan orang lain.
b.      Hubungan dalam keluarga : pola asuh dan interaksi dalam keeluarga yang tidak mendukung proses tumbuh kembang.
2.      Faktor prespitasi
a.       Perpisahan/ kehilangan : orang berarti dulu waktu sementara/ lama (perceraian, kematian, atau dirawat di RS).
b.      Penyakit kronis dan kecacatan : cendrung islasi diri sehingga terjadi gangguan pada pola hubungan.
c.       Sosial budaya : perubahan status sosial ekonomi (perusahan bangkrut atau tinggal ditempat baru).
3.      Perilaku  dengan gangguan kepribadian
a.       Keperibadian histerionik`        ``                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      `
Ciri pokok: sebagai suatu pola pervatif dari emosional dan mencari perhatian yang berlebihan.
b.      Keperibadian narsistik
Dikarakteristikan dengan  waham kebesaran, merasa dirinya penting, kebanggaan diri yang , ingin dapat pujian, senang menuntut, kurang sensitif, tipu muslihat, manipulatif, pelupa, cerewet dan tamak.
c.       Keperibadian borderline
Sukar membina hubungan sosial dan personal, depresi, mengeluh perasaan bosan dan hampa, tidak percaya pada orang lain, perasaan sepi, sangat sensitif terhadap penlakan, tidak mampu mengatasi cemas dan frustasi, serta kontrl diri kurang.
d.      Keperibadian tergantung
Tidak mandiri, orang lain yang mengambil keputusan tentang dirinya, kurang percaya diri, serta vitalitas dan mbilitas kurang.
e.       Keperibadian kompulsif
Tidak hangat, tidak responsif, terikat pada aturan (tertib, rapi), perfeksionis, serius (tidak dapat rileks,ketawa dan menangis), serta hubungan sosial terbatas.
f.       Keperibadian menarik diri/ menghindar
Hiperaktif pada penolakan, menghindari hubungan ssosial kecualidengan jaminan (diterima dan tidak dikeritik), menarik diri, temannya terbatas, harga diri rendah, gelisah, dan malu jika berbicara dengan orang lain, serta ingin dikasihani dan diterima.
g.      Keperibadian pasif-agresif
Menlak tuntutan untuk berpenampilan adekuat, penolakan tidak diungkapkan secara langsung,.
h.      Keperibadian skizoid
Emosi dingin dan tidak peduli, tanpa kehangatan dan kelembutan, tidak dapat membedakan pujian, kritik pada perasaan orang lain, menolak kontak mata, menghindari komunikasi spontan, tidak tertarik dengan lawan jenis, pikiran paranoid, pikiran magis, dan masalah komunikasi.
i.        Keperibadian paranoid
Orang dengan kepribadian paranoid
 Memproyeksikan konflik, dan permusuhan mereka dengan orang lain.
j.        Keperibadian antisosial
Keperibadian antisosial, seringkali terjadi pada pria, menunjukkan acuh tak acuh, serta tidak punya perasaan terhadap hak dan peasaan orang lain.

4.      Respon fisilogis terhadap ansietas
Sistem tubuh
Respon
kardiovaskuler
·         Palpitasi
·         Jantung berdebar
·         Tekanan darah meningkat
·         Denyut nadi menurun
pernafasan
·         Nafas cepat
·         Sesak nafas
·         Nafas dangkal
·         Tekanan pada dada
neuromuskuler
·         refleks meningkat
·         reaksi terkejut
·         mata berkedip-kedip
·         insomnia
·         gelisa
·         wajah tengang
·         kelemahan umum
·         tremor
gastrointestinal
·         kehilangan nafsu makan
·         rasa tidak nyaman pada abdomen
·         menolak makan
·         mual
Saluran perkemihan
·         sering berkemih
·         tidak dapat menahan kencing
Kulit
·         telapak tangan berkeringat
·         berkeringat seluruh badan
·         rasa panas dan dingin
·         wajah pucat

5.      Respon prilaku, kognitif dan afektif
Sistem
Respon
Perilaku
·         Gelisa
·         Reaksi terkejut
·         Bicara cepat
·         Kurang koordinasi
·         Personal
·         Melarikan diri dari masalah
·         Menghindar
·         Sangat waspada
kognitif
·         Perhatian terganggu
·         Konsentrasi buruk
·         Pelupa
·         Salah dalam memberikan penilaian
·         Hambatan berfikir
·         Lapangan persepsi menurun
·         Bingung
·         Sangat waspada
·         Kesadaran diri
·         Kejilangan byektifitas
·         Takut kehilangan kendali
·         Takut cedera atau kematian
·         Mimpi buruk
Afektif
·         Mudah terganggu
·         Tidak sabar
·         Tegang
·         Gugup
·         Ketakutan
·         Waspada
·         Rasa bersalah
·         Mati rasa
·         Malu
·         Kecemasan
·         kekhawatiran



G.   Masalah keperawatan
Masalah keperawatan yang dapat ditemukan pada klien gangguan kecemasan adalah :
1.      Kerusakan interaksi sosial
2.      Gangguan alam perasaan
3.      Gangguan konsep diri


H.   Pohon masalah
Kerusakan interaksi sosial
Efek
kecemasan
                                    Gangguan perasaan                            
                                 Masalah utama
                                   
                                               
                                    Gangguan Harga diri
                                             Penyebab
I.       Diagnsa keperawatan
1.      Kerusakan interaksi sosial : isolasi sosial b.d koping individu tidak efektif.
2.      Gangguan alam perasaan : depresi b.d respon pascatrauma.
3.      Gangguan knsep diri : harga diri rendah b.d koping individu inefektif.

J.      Rencana tindakan keperawatan
Diagnosa 1   
Intervensi              : Dukung dan terima mekanisme pertahanan diri klien
Tujuan umum        : memulihkan mekanisme pertahanan diri klien
Tujuan khusus       : memberbaiki mekanisme kping terhadap kecemasan
                                dan  panik
                              Rasional    : Kecemasan berat dan panik dapat dikurangi.
                              Tindakan   :
·                  Bekerja sama dengan keluarga klien
·                  Bantu klien beradaptasi dengan masalah yang
           menimbulkan kecemasan.
·         Berikan keyakinan terhdap klien bahwa klien mampu mengatasi masalahnya.


Diagnosa  2
Intervensi              : bantu klien mengatasi trauma untuk mencegah
                                terjadinya gangguan jiwa berat.
Tujuan umum        : mencegah terjadinya gangguan jiwa berat.
Tujuan khusus       : mencegah terjadinya kecemasan pascatrauma.
                              Rasional    : mengurangi tingkat depresi pascatrauma.
                              Tindakan   :
·         Bantu klien melepaskan diri dari pengalaman yang menyakitkan.
·         Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
·         Bantu klien untuk mengatasi depresi.

Diagnosa 3
Intervensi              : Meningkatkan konsep diri klien
Tujuan                   : klien dapat berhubungan dengan orang lain secra
                                optimal.
Tujkuan khusus     : klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
                                orang lain.
                                Rasional : Memulihkan koping diri untuk
                                                  bersosialisasi dengan orang  lain.     
                                Tindakan :
·         Libatkan dalam terapi kelompok
·         Bantu klien untuk menerima kritik orang lain
·         Bantu klien untuk sosialisasi dan mendapatkan teman

K.   Evaluasi
Evaluasi adalah  proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan Pada klien. Evaluasi ini dilakukan secara terus menerus pada respon ansietas klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang perlu dievaluasi meliputi :
·         Apakah  interaksi sosial klien membaik
·         Apakah tingkat depresi pascatrauma menghilang
·         Apakah sumber koping pasien telah dikaji dan diarahkan dengan adekuat


L. Terapi aktifitas kelmpok
Terapi aktivitas kelompok pada klien ansietas
1.      Ajari klien strategi koping untuk mengatasi kejadian hidup yang penuh stress.
2.      Beri kesempatan untuk membuat dan mencoba cara baru dalam bersikap dan berfikir tentang serangan panik.
3.      Dorong klien untuk menggunakan kelompok guna mendukung dan menentramkan hati.
Bantu klien mengidentifikasi kapan ansietas meningkat dan mengambil lanhkah-langkah untuk memotong proses ansietas tersebut.


terima kasih telah membaca asuhan keperawatan kecemasan di blog saya. tulis komentar apabila ada yang ditanyakan. Terima Kasih.

No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler