20 April 2013

Landasan teori MORBUS HANSEN


MORBUS HANSEN

LANDASAN TEORI


A.  Pengertian
Morbus Hansen adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae (M.Leprae).

B.  Etiologi
Morbus Hansen merupakan basil tahan lama asam (BTA), bersifat obligat intraselular, menyerang saraf ferifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran pernapasan bagian atas, hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri Morbus Hansen 12-21 hari dan masa tunasnya antara empat puluh hari hingga empat puluh tahun.

C.  Patofisiologi
Setelah M.Leprae masuk ke dalam tubuh, perkembangan penyakit Morbus Hansen bergantung pada kerentanan seseorang. Respons tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas selular (cellular medated immune) pasien. Kalau system imuntas selular tinggi, penyakit berkembang ke  arah tuberkoloid dan bila rendah, berkembang ke arah Lepromatosa M.Leprae berpredileksi di daerah-daerah yang relative lebih dingin, yaitu di daerah akral dengan vaskularsasi yang sedikit.

D.  Manifestasi Klinis
Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, bakterioskopis dan histopologis. Menurut WHO (1995) , diagnosis kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut:
1.     Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas
Lesi kulit dapat tunggal atau multiple, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa macula, papul atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit atau kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan / atau kelemahan otot juga merupakan tanda kusta.
2.    BTA positif
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebaga kasus dicurgai dan diperiksa ulang setiap tiga bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.

18 April 2013

Asuhan Keperawatan (askep) Temponade jantung



Asuhan Keperawatan (askep) Temponade jantung

A.     DEFINISI
Tamponade jantung merupakan suatu sindroma klinis akibat penumpukan cairan berlebihan di rongga perikard yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik (Dharma, 2009 : 67)
Tamponade jantung merupakan kompresi akut pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium dari rupture jantung, trauma tembus atau efusi yang progresif (Dorland, 2002 : 2174).
Tamponade adalah perembesan darah dari jantung ke dalam ruang pericardial sehingga menimbulkan kompresi yang proggresif pada jantung dan obstruksi pada vena-vena besar. (Mansjoer, dkk. 2000: 298).
Tamponade jantung merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat. Terjadi penngumpulan cairan di pericardium dalam jumlah yang cukup untuk menghambat aliran darah ke ventrikel. (Mansjoer, dkk. 2001: 458)
Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena pericardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri dengan volume cairan yang bertambah tersebut (Muttaqin, 2009 : 137).
Tamponade terjadi ketika ada akumulasi cairan pada ruang pericardium. Ini mengakibatkan elevasi pada tekanan intracardiac, penurunan diastole secara progresif dan berkelanjutan, mengurangi volume sekuncup dan cardiac output. (ENA, 2000: 128).
Tamponad terjadi bila jumlah efusi pericardial menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung (gangguan diastolic ventrikel) (Panggabean, 2006 : 1604).
Jadi tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat) yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik, dimana ini merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat.

16 April 2013

Pre Planning Pembekalan Pencegahan dan Penangulangan HIV/AIDS

Pre Planning Pembekalan Pencegahan dan Penangulangan HIV/AIDS dan Penanggulangan Narkoba Di Dusun Moncobalang Desa Moncobalang
Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa

A.    Pendahuluan.
Pemakaian narkoba dan meningkatnya kasus HIV/AIDS pada akhir-akhir ini semakin marak seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Beberapa kasus dilaporkan pemakaian narkoba sebagian besar adalah pada usia remaja. Dan kahkan ada juga yang masih anak-anak. Hal ini karena pada usia ini merupakan usia untuk mencari identitas dan tingginya rasa ingin tahu sehingga sering coba-coba.
Pemakaian narkoba pada tahap awal akan menyebabkan perasaan enak, tetapi pada pemakaian selanjutnya akan menimbulkan kerusakan organ tubuh., kerusakan mental dan bahkan menyebabkan kematian. Jika pemakaian narkoba tersebut adalah remaja atau bahkan anak-anak maka akan berakibat rusaknya mental remaja sebagai generasi penerus bangsa. Rusaknya generasi penerus berakibat runtuhnya suatu bangsa/negara.
Berbagai kasus yang dilaporkan, bahwa pemakai narkoba tersebut sering juga mengidap HIV/AIDS. Sehingga peningkatan jumlah pemakai narkoba juga berakibat meningkatnya jumlah kasus pengidap HIV/AIDS. Tingginya jumlah kasus pengidap HIV/AIDS juga dapat sebagai penyebab runtuhnya suatu negara.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi pemakaian narkoba serta HIV/AIDS. Salah satu upaya  tersebut adalah memasyarakatkan bahaya pemakaian narkoba dan HIV/AIDS.
Pengenalan bahaya pemakaian narkoba dan bahaya HIV/AIDS sangat diperlukan khususnya bagi para generasi muda, guna menghindari diri dari bahaya tersebut.
Berdasarkan alasan tersebut diatas, kelompok praktek profesi keperawatan komunitas PSIK-FK Unhas tahun ajaran 2007 bermaksud menyelenggarakan pembekalan Pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS dan Penanggulangan Narkoba guna ikut serta dalam upaya pemberantasan narkoba khususnya di Dusun Moncobalang Desa Moncobalang Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa.

Asuhan keperawatan (Askep) amputasi II

PROSES KEPERAWATAN

Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif, tahap intraoperatif, dan pada tahap postoperatif.
a.    Pre Operatif
Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi.
Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi.

Pengkajian Riwayat Kesehatan

Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.

Auhan Keperawatan (askep) amputasi

Salam. Kali ini kita akan membahasa tentang Auhan Keperawatan (askep) amputasi. Selamt membaca.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
dengan AMPUTASI

Pengertian 
Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”.
Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.

8 April 2013

Konsep dasar kesehatan dan keperawatan Jiwa

Salam. Kali ini kita akan membahasa tentang Konsep dasar kesehatan dan keperawatan Jiwa. Selamt membaca.
BAB 1
PEDAHULUAN
Keperawatan sebagai suatu pekerjaan yang  ada sejak manusia ada di bumi, keperawatan terus berkembang sejalan dengan kemajuan keberadaban tekhnologi dan kebudayaan, berikut perkembagan keperawatan di dunia :
a)Mother instik
b)      Animisme
c)Keperawatan penyakit akibat kemarahan dewa
d)     Ketabiban
e)Diakones dan philantrop
f) Perkembangan ilmu kedokteran
g)      Perawat terdidik (600 – 1583) masehi
h)      Perawat prefesional
Selanjutnya perkembangan keperawatan di indonesia terus berkembang mengikuti zaman adapun perkembangan keperawatan di Indonesia adalah :
a)      Pelayanan perawatan masih di dasarkan pada naluri atau aliran animisme, artinya orang bijak dan percaya pada roh-roh
b)      Sebagai penjaga orang sakit pada tahun 1799 dirumah sakit binnen hospital dalam hal bukan berdasarkan intelektual tetapi sukarelawan.
c)      Model keperawatan fokasional abad (19)
sudah berkembang pendidikan non formal dipadukan latihan kerja.
d)     Model keperawatan kuratif (1920)
Pelayanan pengobatan yang menyeluruh pada masyarakat  dan dilakukan oleh perawat seperti : immunisasi, vaksinasi dan penyakit seksual.
e)      Keperawatan semi prefesional (1945)
Dalam hal ini pendidikan perawat sudah di bentuk dalam system magang selama 4 tahun bagi lulusan SD.
f)       Keperawatan preventive
Pada tahum 1937 sudah didirikan sekolah mantri hyigine di purwakarta dalam hal ini di fokuskan  pada kesehatan lingkungan yang bukan merupakan pengobatan.
g)      Menuju prefesional ( 1945 )
Pada tahun ini keperawatan mulai nyata dengan d bengan didirikannya sekolah pengaturan ( spr ) dan sekolah bidan di rumah sakit yang bertujuan menunjang pelayanan di rumah sakit, dalam hal ini pendidikannya harus lulus SLTP di tambah pendidikan 3 tahun dan pada tahun 1974 didirikan  persatuan perawat nasional Indonesia ( PPNI ).
h)      Keperawatan nasional dimulai dengan lokakarya nasional keperawatan dengan kejasama antara departemen pendidikan dan kebudayaan republic Indonesia, departemen kesehatan Ri dan Dpp PPNI di tetapkan, tugas apa, fungsinya dan mempunyai kompetensi perawat yang prefesional dari hasil lokakarya ini maka muncullah ide untuk mendirikan akademi keperawatan, kemudian PSIK FK.UI (1985). Selanjutnya didirikan pasca sarjana (1999), selanjutnya berkembangnya Revolusi dan Evaluasi  ilmu maka bermunculanlah keperawatan yang khusus salah satu diantaranya adalah keperawatan jiwa.
 

3 April 2013

Asuhan Keperawatan (Askep) Benigna Prostat Hipertropi

Salam. Kali ini saya akan membagikan tentang Asuhan Keperawatan (Askep) Benigna Prostat Hipertropi. Selamt membaca.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BPH
(BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI)
A.    PENGERTIAN
Hipertropi prostat adalah pertumbuhan yang progresif dan kelenjar prostat sebagai akibat dan proses penuaan pembesaran prostat ini dapat mengakibatkan obstruksi saluran kemih (Thomson, 1993: 1997).
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah pertumbuhan dan nodula-nodula fibroadenomatosa majemuk dalam prostat.
Benigna prostat hipertropi adalah tumor jinak dan kelenjar prostat bagian paling dalam (medial prostat) membesar oleh karena pembesaran ke arah tepi-tepi menimbulkan penyempitan uretra. Pembesaran tersebut dapat menyebabkan dorongan sampai ke arah basis vesika urinaria, sehingga mengakibatkan kesulitan miksi.

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler