26 November 2013

Asuhan Keperawatan Seksio Caesaria



BAB I
KONSEP MEDIS

A.     PENGERTIAN
Seksio Caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. Seksio sesaria adalah suatu histerectomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

B. INDIKASI
1.      Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
2.      Panggul sempit : Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin vias naturalis ialah CV = 8 cm. Panggul dengan CV = 8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan janin dengan normal, harus diselesaikan dengan seksio sesaria. CV antara 8-10 cm boleh dicoba dengan partus percobaan, baru setelah gagal dilakukan seksio sesaria sekunder.
3.      Disproporsi sefalo-pelvik : yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dengan panggul.
4.      Ruptur uteri mengancam.
5.      Partus lama (prolonging labor)
6.      Partus tak maju (obstructed labor)
7.      Distosia serviks
8.      Preklamsia dan hipertensi
9.      Gangguan letak janin

Ø  Letak lintang : Greenhill dan Eastman sama-sama sependapat :
·         Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesaria adalah cara yang  terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
·         Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio sesaria, walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit.
·         Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-cara lain.
Ø  Letak bokong : Seksio sesaria dianjurkan pada letak bokong bila ada :
·         Panggul sempit
·         Primigravida
·         Janin besar dan berharga
Ø  Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dengan cara-cara lain tidak berhasil.
Ø  Gemelli, menurut Eastman seksio sesaria dianjurkan :
·         Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (shoulder presentation).
·         Bila terjadi interlok  (locking of the twins)
·         Distosia oleh karena tumor.
·         Gawat janin, dan sebagainya

C.      JENIS-JENIS OPERASI SC
1.      Abdomen (Seksio sesaria Abdominalis)
a.       Seksio sesaria transperitonialis :
                                      i.      Seksio sesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
                                    ii.      Seksio sesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
                                  iii.      Seksio sesaria ekstraperitonialis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka cavum abdomimal.
b.      Vagina (Seksio sesaria vaginalis)
Manurut arah sayatan pada rahim, seksio sesaria dapat dilakukan sebagai berikut :
                                      i.      Sayatan memanjang (longitudinal) menurut kronig.
                                    ii.      Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
                                  iii.      Sayatan huruf T (T-incision).
2.      Seksio sesaria klasik (Korporal)
Dilakuan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan: mengeluarkan janin lebih cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, sayatan bisa diperpanjang paroksimal atau distal.
Kekurangan: Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonialisasi yang baik, untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri.
3.      Seksio sesaria Ismika (profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan: Penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka dengan retroperitonialisai yang baik, tumpang tindih dari retroperitonial flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum, perdarahan kurang, dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan kurang/lebih kecil.
Kekurangan: luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan a.uterine putus sehigga mengakibatkan perdarahan yang banyak, keluhan pada kandung kemih post opertaif tinggi.

D.    KOMPLIKASI
1.      Infeksi puerperal (nifas)
a.       Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b.      Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
c.       Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
Penangannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat.
2.      Perdarahan, disebabkan karena :
a.       Banyak pembuluha darah yang terputus dan terbuka
b.      Atonia uteri
c.       Perdarahan pada placental bed.
3.      Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
4.      Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.

E.     PROGNOSIS



Dulu angka morbiditas dan mortalitas ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang. Oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 100. Nasib janin yang tertolong secara seksio sesaria sangat tergantung dari keadaan sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.

Gambar.   Bedah Caesar teknik vertical.
Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.  Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.
Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitoneal CS atau Porro CS.  Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalani bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.  Sang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.
Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus beresiko tinggi atau kasus darurat.
Perubahan yang terjadi selama masa nifas post sectio caesarea antara lain:
1)      Uterus, setelah plasenta dilahirkan, uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan reaksi otot-ototnya. Fundus uteri ±3 jari di bawah pusat. Ukuran uterus mulai dua hari berikutnya, akan mengecil hingga hari kesepuluh tidak teraba dari luar. Invulsi uterus terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil, yang disebabkan oleh proses antitoksis dimana zat protein dinding pecah, diabsorbsi dan dibuang melalui air seni. Sedangkan pada endomentrium menjadi luka dengan permukaan kasar, tidak rata kira-kira sebesar telapak tangan. Luka ini akan mengecil hingga sembuh dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka, mulai dari pinggir dan dasar luka,
2)      Pembuluh darah uterus yang saat hamil dan membesar akan mengecil kembali karena tidak dipergunakan lagi,
3)      Dinding perut melonggar dan elastisitasnya berkurang akibat peregangan dalam waktu lama.
Pada operasi sectio caesarea transperitonial ini terjadi, perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan pada dinding uterus. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan dari luka operasi antara lain adalah suplay darah, infeksi dan iritasi. Dengan adanya suplay darah yang baik akan berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan. Perjalanan proses penyembuhan sebagai berikut :
1)      Sewaktu incisi (kulit diiris), maka beberapa sel epitel, sel dermis dan jaringan kulit akan mati. Ruang incisi akan diisi oleh gumpalan darah dalam 24 jam pertama akan mengalami reaksi radang mendadak,
2)      Dalam 2-3 hari kemudian, exudat akan mengalami resolusif proliferasi (pelipatgandaan) fibroblast mulai terjadi,
3)      Pada hari ke-3-4 gumpalan darah mengalami organisasi,
4)      Pada hari ke 5 tensile strength (kekuatan untuk mencegah terbuka kembali luka) mulai timbul, yang dapat mencegah terjadi dehiscence (merekah) luka,
5)      Pada hari ke-7-8, epitelisasi terjadi dan luka akan sembuh. Kecepatan epitelisasi adalah 0,5 mm per hari, berjalan dari tepi luka ke arah tengah atau terjadi dari sisa-sisa epitel dalam dermis
6)      Pada hari ke 14-15, tensile strength hanya 1/5 maksimum
7)      Tensile strength mencapai maksimum dalam 6 minggu. Untuk itu pada seseorang dengan riwayat SC dianjurkan untuk tidak hamil pada satu tahun pertama setelah operasi.
Komplikasi yang bisa timbul pada sectio caesarea adalah sebagai berikut :
1)      Infeksi puerperal yang terdiri dari infeksi ringan dan infeksi berat. Infeksi ringan ditandai dengan kenaikan suhu beberapa hari dalam masa nifas, infeksi yang berat ditandai dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi bisa terjadi sepsis, infeksi ini bisa terjadi karena karena partus lama dan ketuban yang telah pecah terlalu lama,
2)      Perdarahan bisa terjadi pada waktu pembedahan cabang-cabang atonia uteria ikut terbuka atau karena atonia uteria
3)      Terjadi komplikasi lain karena luka kandung kencing, embolisme paru dan deep vein trombosis, (4) terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya.
Masalah post SC :
1.      Timbulnya Rasa Nyeri
Setelah melahirkan, memang kadang-kadang masih timbul rasa sakit di bagian perut. Terjadinya kontraksi dan pengerutan rahim serta penyembuhan jaringan sekitar vagina kadang-kadang menimbulkan rasa sakit selama beberapa hari. Untuk itu, kadang-kadang pasien membutuhkan obat-obatan antibiotik rasa sakit selama 4-5 hari.
2. Perdarahan
Luka akibat tercabutnya pembuluh darah plasenta dari dinding rahim pada waktu persalinan, membutuhkan penyembuhan segera. Penyembuhan luka ini terjadi secara alamiah dengan proses mengerutnya rahim tersebut dengan cara rahim yang berkontraksi selama beberapa minggu setelah persalinan. Apabila rahim tidak dapat berkontraksi, dikhawatirkan dapat terjadi perdarahan yang dapat membahayakan ibu. Dalam keadaan seperti ini, biasanya dokter akan memberikan suntikan agar rahim dapat berkontraksi.
3. Infeksi
Infeksi yang mungkin terjadi adalah akibat sayatan operasi. Infeksi ini menyebabkan suhu tubuh meningkat. Umumnya, keadaan ini sering terjadi pada hari pertama selesai operasi, suhu tubuh tidak juga turun. Biasanya, demam ini baru muncul, pada hari ketiga atau keempat setelah persalinan.
Observasi Pada Post SC :
1. TTV
2. Keseimbangan cairan melalui produksi urin dengan perhitungan. Produksi urin normal 1500 liter /24  jam
3. Infus setelah operasi sekitar 2 x 24 jam
4. Bising usus menandakan berfungsinya usus (flatus)
5. Kontraksi rahim untuk menutup pembuluh darah
6. Perdarahan pervaginam (evaluasi pengeluaran lochea).
Nasehat pada Klien Post Operatif :
1.      Dianjurkan untuk segera mungkin melakukan aktivitas bergerak.
2.      Dianjurkan melakukan perawatan payudara dan personal hygien.
3.      Dianjurkan cukup istirahat dan makan makanan yang bergizi.
4.      Kehamilan berikutnya hendaknya dengan antenatal yang baik.
5.      Anjurkan jangan hamil selama kurang lebih 2 tahun, dengan memakai kontrasepsi yang tidak menekan produksi ASI seperti IUD dan suntik Depo Progestin.




No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler