30 November 2013

Laporan Pendahuluan (askep) Perilaku Kekerasan



LAPORAN PENDAHULUAN
PERILAKU KEKERASAN

I.        Konsep Medis
A.      Pengertian
Sedangkan (Yosep, 2009) berpendapat Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun  orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol.
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan bagi diri sendiri atau pun orang lain (Sheila L. Videbeck, 2008).
B.      Etiologi
1.       Faktor Predisposisi
Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi, artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu:
a.       Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanksi penganiayaan.
b.      Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
c.       Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive).
d.      Bioneurologis, banyak bahwa kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.
2.       Faktor Prespitasi
Faktor prespitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/ pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain. Interaksi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan.

C.      TANDA DAN GEJALA (Menurut Fitria, 2010)
1.       Pengkajian awal : Alasan  utama klien dibawa ke RS adalah PK dirumah.
2.       Observasi: Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, klien sering memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.
3.       Fisik : Mata melotot / pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang  serta postur tubuh  kaku.
4.       Verbal: Mengancam, mengupat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras, kasar.
5.       Perilaku: Menyerang orang lain, melukai  diri sendiri, orang lain, merusak  lingkungan, amuk/ agresif.
6.       Emosi: Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
7.       Intelektual: Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dan tidak jarang   mengeluarkan kata-kata bernada kasar.
8.       Spritual: Merasa diri berkuasa, merasa diri paling benar, keragu-raguan, tidak bermoral.
9.       Sosial: Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindiran.
10.   Perhatian: Bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual.
Sedangkan tanda-tanda adanya perilaku kekerasan yamg mengancam menurut (Santoso , 2007)  adalah :
1.       Kata-kata keras/ kasar atau ancaman akan kekerasan
2.       Adanya perilaku agitatif
3.       Membawa benda-benda tajam atau senjata
4.       Adanya pikiran dan perilaku paranoid
5.       Adanya penyalah gunaan zat/ intoksikasi alkohol
6.       Adanya halusinasi dengar  yang memerintahkan untuk melakukan tindak kekerasan
7.       Kegelisahan katatonik
8.       Adanya penyakit di otak (terutama dilobus frontal)
Hal hal yang perlu diperhatikan untuk menduga adanya resiko bunuh diri (Santoso, 2007).
1.       Adanya ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri sebelumya
2.       Adanya kecemasan yang tinggi, depresi yang dalam dan kelelahan
3.       Adanya ide bunuh diri yang diucapkan
4.       Ketersediaanya alat atau cara bunuh diri
5.       Mempersiapkan warisan terutama klien depresi
6.       Adanya krisis dalam kehidupan baik fisik maupun mental
7.       Adanya riwayat keluarga yang melakukan bunuh diri
8.       Adanya keputus asaan yang mendalam
D.      PROSES TERJADINYA
Banyak hal yang dapat menimbulkan stress, marah, cemas, dan HDR  pada individu. Agresif dapat menimbulkan kecemasan sehingga dapat menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan. Kecemasan  dapat diungkapkan melalui 3 cara:
1.       Mengungkapkan marah secara verbal
2.       Menekan/ mengingkari rasa marah
3.       Menentang perasaan marah
Dengan cara tersebut akan menimbulkan perasaan bermusuhan. Bila cara ini berlangsung terus menerus maka dapat terjadi penyerangan dengan kekerasan disertai tindakan melempar yang menimbulkan perasaan marah tersebut.
Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal berupa perilaku dekruktif maupun agresif . Sedangkan secara internal dapat berupa perilaku yang merusak diri.
Mengekspresikan marah dapat dengan perilaku destruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan direspon tanpa menyakiti orang lain, serta memberikan perasaan lega.
E.       Rentan Respon
Menurut Iyus Yosep, 2007 bahwa respons kemarahan berfluktuasi dalam rentang adaptif maladaptif.
Skema 1.1. Rentang Respon Kemarahan
Respon   adaptif                                                              Respons maladaptif
I-------------------I------------------I----------------------I-------------------I
Asertif         frustasi                 pasif                     agresif               kekerasan
(Sumber Iyus Yosep, 2007)
1.       Perilaku asertif  yaitu mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyalahkan atau meyakiti orang lain, hal ini dapat menimbulkan kelegaan pada individu
2.       Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena yang tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan.
3.       Pasif merupakan perilaku individu yang tidak mampu untuk engungkapkan perasaan marah yang sekarang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu tuntunan nyata.
4.       Agresif merupakan hasil dari kemarahan yang sangat tinggi atau ketakutan / panik. Agresif memperlihatkan permusuhan, keras dan mengamuk, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.
5.       Kekerasan sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman, melukai pada tingkat ringan sampa pada yang paling berat. Klien tidak mampu mengendalikan diri.
F.       MEKANISME KOPING
Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah:
1.       Sublimasi, yaitu melampiaskan masalah pada objek lain.
2.       Proyeksi, yaitu menyatakan orang lain mengenal kesukaan/ keinginan tidak baik.
3.       Represif, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap/ perilaku yang berlawanan.
4.       Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap perilaku yang berlawanan.
5.       Displecement, yaitu melepaskan perasaan tertekan dengan bermusuhan pada objek yang berbahaya.
Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi  berduka yang berkepanjangan dari seseorang karna ditinggal oleh orang yang dianggap berpangaruh  dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka dapat menyebabkan seseorang  harga diri rendah (HDR), sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain tidak dapat diatasi maka akan muncul halusinasi berupa suara-suara atau bayang-bayangan  yang meminta klien untuk melakukan kekerasan.  Hal ini data berdampak  pada keselamatan  dirinya dan orang lain (resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan).
Selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang kurang baik dalam mengahadapi kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif). Hal ini yang menyebabkan klien sering keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal (regimen terapeutik inefektif).
G.     Perilaku
1.       Menyerang orang
2.       Melukai diri sendiri/orang lain
3.       Merusak lingkungan
4.       Amuk/agresi
H.      Penatalaksanaan
Adapun penalaksanaan medik menurut MIF Baihaqi, dkk, 2005 sebagai berikut :
1.       Somatoterapi
Dengan tujuan memberikan pengaruh-pengaruh langsung berkaitan dengan badan, biasanya dilakukan dengan :
a.       Medikasi psikotropik
Medikasi psikotropik berarti terapi langsung dengan obat psikotropik atau psikofarma yaitu obat-obat yang mempunyai efek terapeutik langsung pada proses mental pasien karena efek obat tersebut pada otak.
1)      Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP)
2)      Obat anti depresi, amitriptyline
3)      Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam
4)      Obat anti insomnia, phneobarbital
b.      Terapi Elektrokonvulsi (ECT)
Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ke tubuh penderita menerima aliran listrik yang terputus-putus.
c.       Somatoterapi yang lain
1)      Terapi konvulsi kardiasol, dengan menyuntikkan larutan kardiazol 10% sehingga timbul konvulsi
2)      Terapi koma insulin, dengan menyuntikkan insulin sehingga pasien menjadi koma, kemusian dibiarkan 1-2 jam, kemudian dibangunkan dengan suntikan gluk
2.       Psikoterapi
Psikoterapi adalah salah satu pengobatan atau penyembuhan terhadap suatu gangguan atau penyakit, yang pada umumnya dilakukan melalui wawancara terapi atau melalui metode-metode tertentu misalnya : relaksasi, bermain dan sebagainya. Dapat dilakukan secara individu atau kelompok, tujuan utamanya adalah untuk menguatkan daya tahan mental penderita, mengembankan mekanisme pertahanan diri yang baru dan lebih baik serta untuk mengembalikan keseimbangan adaptifnya.
3.       Manipulasi lingkungan
Manipulasi llingkunagan adalah upaya untuk mempengaruhi lingkungan pasien, sehingga bisa membantu dalam proses penyembuhannya. Teknis ini terutama diberikan atau diterapkan kepada lingkungan penderita, khususnya keluarga.
Tujuan utamanya untuk mengembangkan atau merubah/menciptakan situasi baru yang lebih kondusif terhadap lngkungan. Misalnya dengan mengalihkan penderita kepada lingkunmgan baru yang dipandang lebih baik dan kondusif, yang mampu mendukung proses penyembuhan yang dilakukan.


II.      Konsep Keperawatan
A.      Pengkajian
Beberapa faktor yang perlu dikaji pada klien perilaku kekerasan menurt Budi Anna Keliat, 2006 adalah sebagai berikut :
1.       Klien dibawa ke rumah sakit jiwa dengan alasan amuk, membanting barang-barang, gelisah, tidak bia tidur, berendam dikamar mandi selama berjam-jam.
2.       Klien biasanya amuk karena ditegur atas kesalahannya
3.       Klien mengatakan mudah kesal dan jengkel
4.       Merasa semua barang tidak ada harganya
5.       Klien kelihatan sangat bersemangat, wajah tegang
6.       Muka merah tidak menceritakan masalahnya
7.       Klien merasa minder bila berada dilingkungan keluarga
8.       Klien mudah marah dan cepat tersinggung
9.       Klien selalu merusak lingkungan
10.   Klien nampak kotor, rambut kusut dan kotor, gigi kotor dan kuning
11.   Kuku panjang dan kotor, kulit banyak daki dan kering
12.   Klien mengatakan malas mandi
13.   Klien tidak mau mandi bila tidak disuruh dan mandi kalau perlu saja
14.   Sehabis mandi klien masih tampak kotor.
B.      Masalah Keperawatan
Menurut Kelait BA, 2006 masalah keperawatan yangs sering terjadi pada klien perilaku kekerasan adalah :
1.       Resiko perilaku mencederai diri sendiri, orang lain dan linkungan
2.       Perilaku kekerasan
3.       Ganguan konsep diri harga diri rendah
4.       Gangguan pemeliharaan kesehatan
5.       Defisit perawatan diri, mandi dan berhias
6.       Ketidakefektifan koping keluarga ; ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah
7.       Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik
C.      Pohon Masalah
Resiko mencederai orang lain/lingkungan

Perilaku Kekerasan

Gangguan Harga Diri : HDR
D.      Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
E.       Intervensi
NO
Strategi Perencanaan Pasien
Strategi Perencanaan Keluarga
1
SP I P
1.       Mengidentifikasi penyebab PK
2.       Mengidentifikasi Tanda dan Gejala PK
3.       Mengidentifikasi PK yang dilakukan
4.       Mengidentifikasi akibat PK
5.       Mengajarkan cara mengontrol PK
6.       Melatih Pasien cara mengontrol PK FISIK I ( Nafas Dalam )
7.       Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP I k
1.       Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2.       Menjelaskan pengertian PK, tanda dan gejala, serta proses terjadinya PK.
3.       Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK.


2
SP II P
1.       Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2.       Melatih pasien cara kontrol marah FISIK II ( memukul bantal / kasur / konversi
       energi )
3.       Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP II k
1.       Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK.
2.       Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK.


3
SP III P.
1.       Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2.       Melatih pasien cara mengontrol PK secara Verbal (Meminta / menolak dan mengungkapkan marah secara baik)
3.       Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP III k
1.       Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning).
2.       Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang.

4
SP IV P
1.       Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2.       Melatih pasien cara mengontrol PK secara spiritual (berdoa, berwudhu, sholat)
3.       Membibing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

5
SP V P
1.       Memvalidasi masalh dan dan latihan sebelumnya
2.       Menjelaskan cara mengontrol PK dengan meminum obat ( Prinsip 5 benar
       minum obat )
3.       Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian


F.       Implementasi

1 comment:

  1. Daftar pusatakanya mana? Diperlengkap dong, biar jelas.

    ReplyDelete

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler