30 March 2013

ASUHAN KEPERAWATAN (Askep) ABLASI RETINA

Salam. Pada kali ini saya akan membagikan tentang Asuhan Keperawatan (Askep) ABLASI RETINA. Selamat Membaca.
A.    Definisi
-          Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya lapisan sensorik retina dari lapisan epitel pigmen retina (Daniel, 2000).
-          Ablasi retina adalah merupakan keadaan terlepasnya retina yang diikuti dengan penimbunan cairan pada ruang potensial antara retina dengan sel pigmen epitel koroid (Sidarta Ilyas, 2003)
B.     Etiologi
Ablasi retina disebabkan oleh:
1.      Robekan retina akibat tarikan dari sisi badan kaca akibat jaringan parut.
2.      Robekan retina terjadi akibat eksudasi, bila terjadi timbunan dari pandangan atau tumor.
3.      Akibat adanya robekan pada retina, cairan masuk ke belakang dan mendorong retina.

C.    Klasifikasi
1.      Rhegmatogenous Retina Detachmen/ablasi retina regmatogenosa.
è ada robekan yang merupakan kausa utama
2.      Non Rhegmatogenous Retina Detachmen
è Tidak ada robekan
·         Tractional/traksi
·         Exudative / eksudatif
Ablasi Retina Regmatogenosa
Terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga corpus vitreous yang mengalami pencairan akan masuk ke belakang antara sel pigmen dengan retina.
Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga sub retina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapisan epitel pigmen koroid.
Bentuk robekan retina:
  1. Robekan bentuk U
  2. Robekan bentuk U tidak sempurna
  3. Robekan bentuk bulat akibat operculum semua terlepas.
  4. Dialisis
Sering terjadi pada pasien:
·         Miopia degeneratif
·         Degenerasi retina
Ablasi Retina Eksudatif
Ablasi retina eksudatif: ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan sub retina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid.
Sering terjadi pada:
·         Peradangan: Skleritis, koroiditis
·         Tumor retrobul bar
Ablasi Retina Tarikan atau Traksi
Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca.
Sering terjadi pada pasien terdapatnya jaringan fibrosis disebabkan oleh:
·         DM proliferatif
·         Trauma
·         Perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi
D.    Faktor Predisposisi
  1. Degenerasi retina perifer
  2. Adanya kelainan vitreoretinal yang menyertai
  3. Mata dengan myopia tinggi
  4. Pasca retinitis
  5. Ekstraksi katarak
  6. Trauma
E.     Patofisiologi
Apabila karena suatu sebab terjadi gerakan pada badan kaca maka akan terjadi tarikan yang menyebabkan robekan pada retina, sehingga yang tadinya mendapat nutrisi dari pembuluh darah kario kapiler tidak lagi mendapat nutrisi yang baik dari koroid, sehingga akan terjadi penghancuran sel kerucut dari sel batang akibatnya akan terjadi degenerasi dan atior sel reseptor retina.
Pada saat terjadi degenerasi retina, maka akan terjadi kompensasi dari sel epitel pigmen yang melakukan serbukan sel ke daerah degenerasi sehingga akan terlihat sel epitel pigmen di depan retina. Tetapi bila degenerasi berlangsung lama, sel pigmen akan bermigrasi ke dalam cairan sub retina dan ke dalam sel reseptor kerucut dan batang.
Bila pada retina terdapat rupture besar maka badan kaca akan masuk ke dalam cairan sub retina. Apabila terjadi kontak langsung antara badan kaca dengan koroid maka akan terjadi degenerasi koroid. Apabila terjadi degenerasi sel reseptor maka keadaan ini akan berlanjut ke dalam jaringan yang lebih dalam yang kemudian jaringan ini diganti dengan jaringan glia. Akhirnya penglihatan akan sangat menurun, karena fungsi saraf masih baik maka penglihatan yang paling jelek hanya mampu membedakan gelap terang.
Bila proses di atas belum terjadi dan ablasi retina ditemukan dini dan kemudian kedudukan retina dikembalikan ke tempat semula (asal), maka akan terjadi pengembalian penglihatan yang sempurna.
F.     Gejala Klinik
·         Visus menurun
·         Defek lapang pandang
·         Floaters
Keluhan adanya bayangan yang bergerak oleh karena adanya robekan retina à robekan sel-sel masuk ke korpus vitreous (terutama bila corpus vitreous mencair) à bila melewati area penglihatan terlihat bayangan hitam atau seperti ada serangga.
·         Fotopsia
Kilatan cahaya karena regangan retina
·         Bayangan retina keabuan pada lokasi
·         Terlihat gejala sesuai penyebabnya
G.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Pada pemeriksaan funduskopi, retina terlihat berwarna abu-abu.
·         Permukaan retina tidak rata dan terlihat seperti bergelombang
·         Pembuluh darah di atas retina berkelok-kelok sesuai dengan gelombang retina yang terangkat
·         Pada daerah ablasi tidak terlihat gambaran koroid normal
·         Pada retina terlihat retina robek
·         Lubang pada retina dapat dilihat dengan melihat refleksi merah koroid pada retina yang terangkat dan berwarna abu-abu.
·         Robekan pada retina dapat berbentuk ladam kuda, lubang kecil atau bentuk bulan sabit
·         Ruptur yang terjadi sering pada daerah temporal superior atas fundus okuli.
2.      Tekanan bola mata rendah bila tekanan bola mata tinggi, berarti terjadi glukoma non vaskuler pada ablasi yang lama.
3.      Pemeriksaan ERG terlihat gelombang a dan b yang menurun
4.      Pemeriksaan angiografi fluoresin:
·         Terlihat kebocoran di daerah para papilar dan daerah yang berdekatan dengan tempatnya rupture
·         Terlihat gangguan permeabilitas koriokapiler akibat rangsangan langsung badan kaca pada koroid.
·         Membedakan antara ablasi primer atau sekunder
H.    Penatalaksanaan
1.      Ablasi Retina Eksudatif
Karena bukan sebab langsung kerusakan retina, maka terapinya sesuai dengan kausa misalnya karena peradangan, maka terapi pada yang mengalami peradangan.
2.      Ablasi Retina Traksi
Melepaskan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca dengan tindakan virektomi.
3.      Ablasi Retina Regmatogenosa
Bila diagnosis ablasi retina regmatogenosa sudah dibuat maka penderita sudah harus dirawat dengan tujuan untuk menghindari robekan lebih lanjut.
Perawatan:
-          Penderita harus istirahat terutama tidak membaca
-          Kedua mata diberi lubang pengintip
-          Mata diberi sikloplegik
Pembedahan harus segera dilakukan bila:
-          Lepasnya makula baru 2 hari
-          Ablasi mengancam terangkatnya makula
-          Robek retina besar
Pembedahan tidak terlalu akut bila:
-          Ablasi lama dengan makula lepas
-          Ablasi lama yang tidak mengancam makula lutea
Pembedahan bertujuan melekatkan kembali retina yang lepas dengan:
-          Diatermi, tanpa atau dengan mengeluarkan cairan subretina
-          Implan yang diletakkan pada kantung sclera sesudah dilakukan reseksi sclera yang akan mendekatkan sclera dengan retina
-          Band, yang merupakan ikatan melingkar pada bola mata.
I.       Komplikasi
Dapat terjadi tarikan massif retina vitreous
J.      Prognosis
Prognosis ablasi retina baik bila:
-          Robekan kecil
-          Adanya garis demarkasi ablasi pada retina
-          Cairan subretina sangat sedikit
Prognosis kurang memuaskan bila:
-          Ablasi dengan afakia
-          Ablasi total
-          Ablasi tidak dengan bibir rupture melipat
Prognosis buruk pada:
-          Ablasi retina dengan ablasi koroid makula
-          Ablasi retina dengan rupture besar
Tanpa pengobatan retina akan terlepas total dalam 6 bulan
30 % kasus tanpa komplikasi è sembuh 1x operasi
15 % è memerlukan operasi kedua
Anjurkan pada penderita yang baru mengalami pembedahan ablasi untuk mengurangi olahraga terutama yang melakukan gerakan kepala yang cepat.
Demikianlah penjelasan saya tentang Asuhan Keperawatan (Askep) ABLASI RETINA. tulisakan pada kolom komentar di bawah. terima kasih. by http://nandarnurse.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler