18 January 2013

Asuhan Keperawatan : jantung kongenital pada anak

Pada posting kali ini, saya akan menjelaskan tentang Asuhan keperawatan jantung kogenital. semoga bisa bermanfaat bagi kamu. Selamat membaca.
Penyakit jantung pada anak-anak
Anak-anak yang kelebihan berat badan sering menjadi orang dewasa gemuk. Mereka akan menghadapi risiko kardiovaskular yang datang dengan obesitas.. Tingkat di mana anak-anak berat badan juga dapat menjadi faktor. Jika anak Anda memiliki berat badan lebih cepat daripada anak-anak lain,

Penyakit jantung pada anak ada 2 macam, yaitu penyakit jantung bawaan dan penyakit jantung didapat. Kedua macam penyakit jantung ini dapat menyebabkan gagal jantung atau fungsi jantung yang menurun di mana jantung tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan metabolik jaringan tubuh Disebut bawaan karena kelainan jantung yang diidap si anak telah terbentuk sejak dalam kandungan. Sementara yang satunya, dinamakan didapat karena penyakit tersebut baru didapatkan oleh anak setelah menginjak umur-umur tertentu, biasanya lima hingga lima belas tahun. Penyebab penyakit jantung bawaan hingga kini belum diketahui secara pasti. Penyakit Jantung Bawaan meliputi defek septum ventrikel , duktus arteriosus persisten, defek septum atrioventrikular, stenosis pulmonal, tetralogi Fallot, transposisi arteri besar dan atresia pulmonal. Salah satu penyakit jantung didapat yang sering ditemui adalah demam reumatik akut (DRA) dan penyakit jantung rematik (PJR)

A. Konsep Medis
1. Definisi
Penyakit jantung Kongenital ( CHD ) adalah suatu bentuk penyakit Kardiovaskular yang ada sejak lahir dan terjadi karena kelainan perkembangan.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi
Penyakit jantung Kongenital ( CHD ) adalah Defek oleh structural atau fungsional pada jantung atau pembuluh darah besar yang terjadi pada saat lahir.
Penyakit Jantung congenital pada anak meliputi defek septum ventrikel , duktus arteriosus persisten, defek septum atrioventrikular, stenosis pulmonal, tetralogi Fallot, transposisi arteri besar dan atresia pulmonal.
*    Defek septum Ventrikel
Merupakan PJB yang paling sering ditemukan, yaitu 30 % dari semua jenis PJB. Pada sebagian besar kasus,Diagnosis kelainan ini ditegakkan setelah melewati masa neonates , karena pada minggu-minggu pertama bising yang bermakna biasanya belum terdengar oleh karena resistensi vascular paru masih tinggi dan akan menurun setelah 8 – 10 minggu
*    Duktus arteriosus persisten (DAP)
adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Kelainan ini merupakan 7 % dari seluruh PJB. Duktus arteriosus persisten sering dijumpai pada bayi premature, Insidensnya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi
*    Defek septum atrioventrikular
Defek ini terjadi pada ±5 % dari penyakit jantung bawaan dan tersering pada sebagian sindrom down. Pada kelainan ini tidak terjadi pemisahan antara cincin katup mitral dan katup trikuspidalis sehingga terdapat satu lubang besar cincin katup atrioventrikular yang menghubungkan kedua atrium dan kedua ventrikel secara bersama.
*    Stenosis pulmonal
Istilah ini menunjukkan terdapatnya obstruksi pada jalan keluar ventrikel kanan atau pulmonalis dan cabang-cabangnya. Stenosis dapat terjadi di bawah katup yaitu di infundibulum (stenosis subvalvular), pada katup (valvular ) , di atas katup (supravalvular), atau cabang a.Pulmonalis ( stenosis pulmonal perifer). kelainan ini dapat tersendiri atau menjadi bagian dari kelainan lain seperti tetralogi Fallot, trasposisi arteri besar, ventrikel kanan dengan jalan keluar ganda , dan lainnya.
*    Tetralogi Fallot,
adalah PJB sianotik yang paling sering ditemukan dan merupakan 5 – 8 % dari seluruh PJB. Tetralogi Fallot terjadi bila terdapat kegagalan perkembangan infundibulum.
*    Transposisi arteri besar
merupakan penyakit jantung bawaan sianotik kedua tersering setelah tetralogi Fallot, kira-kira 5 % dari seluruh penyakit jantung bawaan. Kelainan ini lebih sering di temukan pada anak laki-laki. Sepertiga kasus mempunyai riwayat ibu yang menderita diabetes mellitus . Bayi tranposisi jarang lahir premature, Biasanya ia lahir dengan berat badan normal atau besar.
*    Atresia pulmonal.
Secara garis besar dibagi menjadi 2 kelompok yaitu atresia pulmonal dengan defek septum ventrikel dan atresia pulmunal tanpa defek septum ventrikel ( Atresia pulmonal dengan septum yang utuh )

Salah satu penyakit jantung didapat yang sering ditemui adalah demam reumatik akut (DRA) dan penyakit jantung rematik (PJR)
*       Demam reumatik akut
merupakan penyakit peradangan akut yang dapat menyertai faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolyticus grup A. Penyakit ini cenderung berulang dan dipandang sebagai penyebab terpenting penyakit jantung didapat pada anak dan dewasa muda di seluruh duni . Demam reumatik yang menimbulkan gejala sisa pada katup-katup jantung disebut sebagai penyakit jantung reumatik.
*       Endokarditis infektif.
merupakan penyakit yang disebabkan infeksi mikroba pada lapisan endotel jantung, ditandai oleh vegetasi yang biasanya terdapat pada katup jantung, namun dapat terjadi pada endokardium di tempat lain.

2. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti,Lebih dari 90 % kasus penyakit jantung bawaan penyebabnnya adalah multifaktorial, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1.    Faktor Prenatal :
*       Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
*       Ibu alkoholisme.
*       Umur ibu lebih dari 40 tahun.
*       Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
*       Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2.    Faktor Genetik :
*       Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
*       Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
*       Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
*       Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
3.    Faktor Lingkungan
*      Radiasi
*      Gizi ibu yang jelek
*       Kecanduan obat-obatan dan
*      Alcohol juga mempengaruhi perkembangan embrio
(Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan PembuluhDarah Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)
3. Tanda dan Gejala
Gejala
Dalam masa bayi dan masa kanak-kanak, ada sangat sedikit gejala abnomal kongenita, kecuali menyebabkan sianosis atau payah jantung kongesti. Seseorang jangan hanya melihat gejala, tetapi lebih baik melihat gejala, tetapi lebih baik melihat tanda yang diperlihatkan oleh pasien. Tidak adanya keluhan gejala ini tidak hanya karena ia seorang anak tetapi juga karena fakta bahwa untuk orang yang dilahirkan dengan suatu cacat, sulit untuk mengetahuhi apa yang normal. Anak yang karakteristiknya  tenang dan lebih suka aktivitas dalam rumah bisa muncul setelah operasi .
Pasien sianotik mudah ditemukan. Pasien bisa mampu berjalan pada tingkat kecepatannya sendiri untuk jarak cukup jauh .Anak dengan Tetralogi Fallot khas berjongkok untuk istirahat pada waktu kelelahan.
Payah jantung lebih cenderung timbul pada bayi dalam minggu atau bulan pertama kehidupan. Gejala mencakup pernafasan yang cepat dan bahkan sulit, kelelahan waktu makan dan pertambahan berat badan yang lambat
Tanda
1      Tekanan darah
Tekanan darah ( bila diukur ekstremitas atas dan bawah dengan manset yang sempit dari ukuran yang tepat)  merupakan komponen penting pemeriksaan fisik untuk semua pasien yang diduga menderita penyakit jantung congenital.
2      Denyut radialis dan femoralis
Palpasi kedua denyut radialis serentak, serta denyut radialis dan femoralis serentak memberikan informasi tentang obstruksi atau aliran aorta
3      Pulsasi vena
Pulsasi vena menunjukkan peningkatan  tekanan paengisisan atrium kanan atau obstruksi bagi saluran keluar atrium kanan
4      Sianosis
Tanda sianosis tidak hanya mencakup warna biru pada kuku, membrane mukosa dan kulit, tetapi sering warna merah muda pada pipi seluruh konjuntuva serta clubbing jari tangan dan jari kaki
5      Kardiomegali
*      Tanda kardiomegali pada bayi dan anak kecil adalah benjolan prekordium tepat dikiri sternum jika ventrikel kanan membesar, dan pada apeks yang sering tergeser kebawah dan keluar, jika ventrikel kiri terlalu besar
*      Pada palpasi, Lift ventrikel kanan dan kiri menyertai bukti pembesaran yang terlihat ini.
6      Bising jantung
Saat dan lokasi bising jantung memounyai makna khusus dalam diagnosis penyakit jantung congenital.
*         Bising holosistolik secara tidak langsung berarti hubungan abnormal antara ventrikel dan beberapa kamar lain selama systole
*         Bising sistolik ejeksi padabasis jantung disebabkan oleh ejeksi darah dalam jumlah normal
*         Bising berasal dari pulmonal yang menjalar kelapangan paru posterior
*         Bising diastolic kurang lazim dibandingkan yang sistolik pada penyakit jantung congenital
*         Bising awal dan mediodiastolik pada basis dan sepanjang batas sternum kiri karna insufiensi katup semilunaris
*         Bising mediodistolik yang lebih rendah diatas prekordium
*         BIsing sistolok dan diastolic yang kontinu disebabkan oleh hubungan arterio-venosa
7      Bunyi jantung juga tanda penting dalam diagnosis
*         Bunyi kedua pada sela iga kedua kiri sangat penting. Normalnya bunyi ini terbelah dan komponen aorta mendahului pulmonal.Bunyi jantung ketiga pada apeks terdengar pada banyak anak yang normal
*         Bunyi jantung keempat patologi
*         Dalam jantung yang gagal, bunyi menjadi S3, S4 atau summation gallop
8      Bunyi ejeksi atau click
*         Bunyi ejeksi sistolik yang dini atau click berasal dari Katup atau vascular
*         Bila suatu bising sistolik ejeksi pada basis jantung ditemukan , maka bunyi ejeksi sistolik yang dini menggambarkan bahwa stenosis lebih bersifat valvular dari pada sub-atau supravalvular
*         Click dapat juga terdengar bila aorta atau arteri pulmonalis berdilatasi
*         Click mediosistolik disertai bising sistolik lanjut pada apeks.
9      Edema
*    Edema pada subjek rawat jalan bersifat dependen, tetapi pada bayi yang bahkan tidak dapat duduk, edema juga bersifat generalisata
*    Adanya edema pertama kali bisa dideteksi sebagai bengkak paltebra,
*    Ronci merupakan bukti edema paru tetapi pada bayi merupakan suatu tanda lanjut.
4. Klasifikasi
Ada 2 kelompok besar penyakit jantung bawaan yaitu :
1.       Penyakit Jantung Bawaan yang Tidak Biru ( asianotik )
Ada 2 kelompok besar yaitu:
- Terdapat defek / lesi/lubang sehingga terjadi aliran pirau dari kiri ke kanan (dari darah yang penuh oksigen ke dalam darah yang kurang oksigen), misalnya pada PDA, ASD, VSD, AVSD.
- Terdapat lesi obstruktif di jantung kanan atau kiri tanpa aliran pirau misalnya: AS, Coarch, PS.Penyakit jantung bawaan tidak biru dengan lesi/lubang hingga terdapat aliran dari kiri ke kanan.
2.       Penyakit Jantung Bawaan yang biru ( sianotik )
Terdapat 2 kelompok besar yaitu:
- Aliran darah ke paru kurang (oligemic lung)
- Aliran darah ke paru berlebih (plethoric lung)
5. Patofisiologi
Secara fisiologis sirkulasi paru akan membawa darah yang telah teroksigenasi meninggalkan paru dan akan masuk kembali ke dalam siklus jantung untuk dialirkan kembali keseluruh tubuh guna memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen seluruh organ-organ vital dalam tubuh
Sedangkan secara patofisiologi pada kelompok ini terdapat defek pada dinding pemisah antara ventrikel kiri dan kanan sehingga dapat menimbulkan peralihan (shunt) darah yang telah teroksigenasi penuh akan kembali ke paru-paru.
Arah dan besar shunt tersebut bergantung pada ukuran defek dan tekanan relatif pulmonal dan sistemik serta tahanan vaskuler pulmonal dan sistemik. Normalnya, tahanan arteriol pulmonal janin yang tinggi akan menurun dengan cepat pada pernapasan dan pada umur jam-jam pertama neonatus, kemudian penurunan lebih perlahan-lahan dan stabil pada setingkat dewasa sekitar umur 3-6 bulan. Pemajanan yang lama sirkulasi pulmonal pada tekanan dan aliran darah yang tinggi akan menyebabkan kenaikan tahanan vaskuler pulmonal sedikit demi sedikit. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia neonatus tahanan vaskuler pulmonal akan menurun akibatnya shunt darah dari kiri ke kanan yang melalui defek tersebut akan mulai dan bertambah besar, sehingga menyebabkan bertambahnya volume darah dalam paru dan mengakibatkan menurunkan kelenturan paru dan menaikkan kerja pernapasan.
Peningkatan volume paru yang berlebihan akan menyebabkan cairan tersebut bocor ke dalam sela intertisial dan alveoli sehingga menimbulkan edema paru dan akan menimbulkan gejala seperti takipneu, retraksi dada, pernapasan cuping hidung dan mengi. Akibat dari edema paru ini menyebabkan volume dalam ventrikel kiri berkurang dan untuk tetap mempertahankan tingkat curah ventrikel kiri yang tinggi, frekuensi jantung dan volume sekuncup dinaikkan yang diperantarai oleh aktivitas sistem saraf simpatis mengaktivasi katekolamin dalam sirkulasi, bersama dengan bertambahnya kerja pernapasan mengakibatkan kenaikan konsumsi oksigen total tubuh, sering diluar kemampuan transport oksigen sirkulasi sehingga menimbulkan gejala tambahan seperti berkeringat, iritabel, takikardi dan gagal tumbuh. Peningkatan volume paru yang berlebihan akan menyebabkan cairan tersebut bocor ke dalam sela intertisial dan alveoli sehingga menimbulkan edema paru dan akan menimbulkan gejala seperti takipneu, retraksi dada, pernapasan cuping hidung dan mengi. Akibat dari edema paru ini menyebabkan volume dalam ventrikel kiri berkurang dan untuk tetap mempertahankan tingkat curah ventrikel kiri yang tinggi, frekuensi jantung dan volume sekuncup dinaikkan yang diperantarai oleh aktivitas sistem saraf simpatis mengaktivasi katekolamin dalam sirkulasi, bersama dengan bertambahnya kerja pernapasan mengakibatkan kenaikan konsumsi oksigen total tubuh, sering diluar kemampuan transport oksigen sirkulasi sehingga menimbulkan gejala tambahan seperti berkeringat, iritabel, takikardi dan gagal tumbuh
7. Gambaran Laboratorium
a.  Pemeriksaan noninvasif a, c, dam f paling member informasi dan paling lazim digunakan
1.    EKG, memberikan bukti tentang irama : frekuensi hantaran, sumbu listrik, dilatasi kamar jantung atau hipertrofi
2.    Vektorkardiogram menginterpretasi informasi diatas dalam tontonan tiga dimensi
3.    Seri jantung dari foto toraks
4.    Fonokardiogram membuat rekaman permanen bagi bunyi dan bising jantung serta membantu menjelaskan kebingungan pada waktu kejadian diauskultasi
5.    Ekokardiogram
6.    Apekskardiogram merekam gerakan jantung dalam hubungan dengan EKG yang serentak
7.    Interval waktu sistolik memberikan informasi tentang masa preejeksi dan ejeksi
8.    Rekaman tekanan tidak langsung dari pulsasi arteri merekam kejadian yang dipalpasi dalam suatu layar dengan ketelitian dan kemurnian yang tinggi, meniru rekaman intraarteri
9.    Tes gerak badan pada treadmill
b.  Teknik Invasif
1.    Katerisasi jantung dengan visualisasi kontraks yang selektif
2.    Pemeriksaan eletrofisiologi yang didapat pada katerisasi jantung kanan bermanfaat dalam menggambarkan aritmia yang rumit dan kelainan hantaran
3.    Pemeriksaan radionuklid saat istirahat dan selama gerak badan merupakan tambahan jantung untuk mengevaluasi penampilan miokardium dan perfusi maupun pirau utama.
4.    Angiokardiografi subtraksi digital memberikan gambaran yang baik bagi anatomi jantung yang abnormal dengan lebih sedikit radiasi.
c.  Pemeriksaan Lainnya
1.    Pemeriksaan gas darah
2.    Eletrolit dan glukosa serum bias berubah dalam asidosis metabolic atau respirasi atau pada terapi diuretic jangka panjang untuk payah jantung
3.    Penemuan hemoglobin dan hematokrit sangat bermanfaat dalam diagnosis dan penatalaksanaan pasien sianotik
4.    Survai koagulasi yang terpadu diindikasikan untuk pasien sebelum dan setelah pembedahan jantung, terutama bila sirkulasi ekstrakorporal digunakan atau bila ada riwayat pendarahan yang tidak biasa.
5.    Pemeriksaan neurologi seperti eletroensefalogram, pencitraan resonansi magnet, tomografi di komputerisasi.

B. Konsep Dasar Keperawatan
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN
1. Pengkajian
*      Lakukan pengkajian fisik dengan penekanan khusus pada warna, nadi, (apical dan perifer ). Pernapasan, tekanan darah, serta pemeriksaan dan auskultasi dada.
*      Dapatkan riwayat kesehatan termasuk bukti penambahan berat badan yang buruk, makan buruj, intoleransi aktivitas, postur tubuh tidak umum, atau infeksi saluran pernapasan yang sering.
*      Observasi ananak terhadap manifestasi penyakit jantung congenital.
Pada  bayi
*      Sianosis –Umum, khususnya membrane mukosa, bibir dan lidah, konjungtiva, area vaskularisasi tinggi
*      Dispnea, khususnya setelah kerja fisik seperti makan , menangis, dan mengejan
*      Keletihan
*      Pertumbuhan dan perkembangan buruk (gagal tumbuh ) sering mengalami infeksi saluran pernapasan
*      Kesulitan mmakan
*      Hipotonia
*      Keringat berlebihan
*      Serangan sinkop seperti hiperpnea paroksismal, serangan anoksia
Anak Yang Lebih Besar
*      Kerusakan pertumbuhan
*      Perkembangan tubuh lemah, sulit
*      Keletihan
*      Dispnea pada aktivitas
*      Ortopnea
*      Jari tabuh
*      Berjongkok untuk menghilangkan dispnea
*      Sakit kepala
*      Epistaksis
*      Keletihan kaki
2. Diagnosa keperawatan
a)    Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
b)    Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah
c)    Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrient pada jaringan ; isolasi social
d)    Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung.
e)    Risiko tinggi cedera (komplikasi) behubungan dengan kondisi jantung dan terapi
3 . Intervensi Keperawatan / Rasional / Evaluasi
a)    Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur
Sasaran Pasien  : Pasien menunjukkan perbaikan curah jantung
Rencana intervensi dan rasional
*      Beri digoksin sesuai pesanan dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toksisitas
*      Beri obat penurunan afterload sesuai instrusi
*      beri diuretic sesuai istruksi
Hasil yang diharapkan :
*      Frekuensi jantung, tekanan darah , dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia
*      Keluaran urine adekuat ( antara 0,5 dan 2 ml/k, tergantung usia anak

b)    Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah
Sasaran pasien : Pasien tidak menunjukan bukti-bukti infeksi
Rencana intervensi dan rasional
*      Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi.
*      Beri istirahat yang adekuat
*      Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami
Hasil yang diharapkan :
*      Anak bebas dari infeksi

c)    Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrient pada jaringan ; isolasi social
Sasaran Pasien  1  : Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan
Rencana intervensi dan rasional
*      Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
*      Pantau tinggi dan berat badan,, gambarkan pada grafik pertumbuahn untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan
*      Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila diinstruksikan
Sasaran Pasien 2 : Pasien mempunyai kesempatan untuk berpartisifasi dalam aktivitas yang sesuai.
Rencana intervensi dan rasional
*      Dorong aktivitas sesuai usia
*      Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain
*      Izinkan anak untuk menata ruangannya sensiri dan batasab aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah
Hasil yang diharapkan :
*      Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat
*      Anak melakukan aktivitas sesuai usia
*      Anak tidak mengalami isolasi sosial
d)    Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung.
Sasaran Pasien  2  : Pasien mengalami penurunan rasa takut dan ansietas
Rencana intervensi dan rasional
*      Diskusikan dengan orang tua dan ananak ( bila tepat ) tentang ketakutan mereka dana masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas / rasa takut.
Sasaran Pasien  2 : Pasien menunjukkan perilaku koping yang positif
*      Dorong kkeluarga untuk berpartisifasi dalam perawatan anak selama dihospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah
*      Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri
*      Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak
Sasaran Pasien 3 ( Keluaarga ) : Paien  (keluarga ) menunjukkan pengetahuan tentang perawatan dirumah.
Rencana intervensi dan rasional
*      Ajari keterampilan yang dirlukan untuk perawatan di rumah
*      Pemberian obat-obatan
*       Teknik pemberian makanan
*      Intervensi mengenai penghematan energy dan yang diarahkan pada penghilangan gejala yang menakutkan
*      tanda-tanda yang mengindikasikan adanya komplikasi
*      Dimanan dan siapa yang harus dihubunga untukk meminta bantuan dan bimbingan
Hasil yang diharapkan :
*      Pasien mengalami penurunan rasa takut dan ansietas
*      Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif
*      Keluarga menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk perawatan dirumah
*      Anggota keluarga mempelajari teknik resusitasi jantung
e)    Risiko tinggi cedera (komplikasi) behubungan dengan kondisi jantung dan terapi
Sasaran Pasien  1 : Pasien mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini
Rencana intervensi dan rasional
*      Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi
*      Gagal Jantung KOhesif (GJK )
Tanda awal :
-     Takikardia, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan
-     Takipnea
-     Keringat banyak dikulit kepala, khususnya pada bayi
-     Keletihan dan iritasi
-     Penanbahan dan iritasi
-     Penambahan Berat badan yang tiba-tiba
-     Distres pernapasan
-     Toksisitas digoksin : Muntah , mual , anoreksia, bradikardia
-     Distritmia
-     Hipoksemia
-     Kolaps Kardiovaskular
*      Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik
*      Tempatkan anak pada posisi lutut – dada dengan kepala dan dadaditinggikan
*      Tetap tenang
*      Beri Oksigen 100 % dengan masker wajah bila ada hubungi praktisi
Sasaran Pasien  2 : Pasien ( keluarga ) Menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostic dan pembedahan
Rencana intervensi dan rasional
*      Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga
*      Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur
*      Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan
*      Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan
Hasil yang diharapkan :
*      Keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur



DAFTAR PUSTAKA
Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997 ), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Pusdiknakes, (1993), Proses Keperawatan Pada pasien Dengan gangguan Sistem Kardiovaskuler, EGC, Jakarta
Sastroasmoro Sudigdo and Bambang Madiyono ( 1994 ), Buku Ajar Kardiologi Anak , penerbit Binarupa Aksara, Jakarta
Sastroasmoro Sudigdo ( 1998 ), Dasar Diagnosis & tata Laksana Penyakit jantung Bawaan, Perhimpunan Kargiologi anak Indonesia,  Jakarta
Wong, L Donna ( 2003 ) Wong and Whaley’s clinical manual of pediatric nursing, Edisi 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Itulah tadi penjelasan tentang Asuhan keperawatan jantung kogenital. semoga bermanfaat. Dan bila ada pertanyaan atau saran, silahkan tulis komentar kamu di kolom komentar di bawah. Dapatkan banyak lagi inlmu pada blog ini di sini. terima kasih.

1 comment:

  1. terimakasih banyak untuk informasinya, sangat bermanfaat

    http://herbalkuacemaxs.com/pengobatan-herbal-jantung-rematik/

    ReplyDelete

Terima kaih atas komentarnya

Ikuti dengan Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Informasi terpopuler